Sabtu, 03 Mei 2014

12 Years A Slave Part 3

Beberapa bulan kemudian, perkebunan Tuan Epps sudah kembali seperti semula. Para budak kembali ke tempat mereka. Patsy yang bukan lagi ratu ladang, sedang menyapu di halaman. Ia menyambut kedatangan kembali rombongan budak dengan pipi prnuh luka dan mata memerah bengkak. Sepertinya kekejaman Nyonya Epps belum berakhir kepadanya. Ada budak perempuan kecil di sana. Sepertinya baru beli. Ia sangat disayang Tuan Epps, digendong ke mana-mana.




Para budak memanen kapas seperti biasanya. Ada tambahan anggota budak lagi di sini, namanya Armsby (Garret Dillahunt), orang kulit putih. Ia menjadi budak karena pemabuk dan banyak hutang hingga dirinya sendiri yang harus dijual. Sama seperti Platt, ia sering dicambuk karena menghasilkan sedikit panen. Ia bercerita bahwa dulunya ia adalah pengawas perkebunan. Ia juga sering merasa bersalah jika tiap hari harus mabuk-mabukan. Makanya ia sering melarikan diri pada minuman keras. Platt merasa Armsby bisa membantunya keluar dari statusnya. Maka, ia pun mengambil kertas yang ia ambil dulu, membuat kesepakatan dengan koin bayaran yang ia punya, meminta Armsby untuk mengirimkan surat yang ia tulis ke New York. Armsby berjanji akan melakukannya, menyuruhnya menulis suratnya dan menemuinya dua hari lagi. Platt sangat lega mendengarnya. Ia menyiapkan tinta buatannya sendiri dan mulai menulis secara sembunyi-sembunyi.


Akan tetapi, ternyata Armby menghianatinya. Ia melaporkan hal itu pada Tuan Epps untuk mencari muka. Tentu saja Tuan Epps murka. Tengah malam, Platt dibangunkan dan diinterogasi Tuannya yang khawatir ia akan melarikan diri. Dengan diplomatis, Platt berkata bahwa apa yang Armsby katakana itu hanyalah bohong belaka. Dengan fakta bahwa Platt tidak mungkin punya kertas dan tinta, dengan tambahan Armsby adalah budak kulit putih dan berniat menjadi pengawas, pemabuk pula, Tuan Epps pun lebih mempercayai Platt yang cenderung tak akan berani berbohong. Platt menghela nafas lega saat Tuan Epps meninggalkannya. Dengan berat hati, ia membakar kertas yang ia miliki satu-satunya, melihat sampai akhir kertas itu berubah menjadi abu, menghanguskan seluruh harapannya.



Suatu hari saat memanen kapas, ada seorang budak tua yang meninggal dunia. Platt menguburkannya di kebun belakang bersama beberapa budak lain. Hanya beberapa patah kata sederhana yang mengiringi penguburan itu. Upacara penghormatan dilakukan dengan nyanyian bersama budak yang lainnya. Sementara yang lain bernyanyi dengan khidmat, Platt justru setengah menangis, campuran antara marah dan kesal, menyadari kemungkinan dirinya pun akan berakhir seperti ini, tanpa punya kesempatan untuk bertemu dengan keluarganya lagi. Ekspresinya luar biasa sekali.


Kegiatan berlangsung seperti biasanya setelah itu. Platt saat ini ditugaskan untuk membuat sebuah gazebo. Ia senang mempraktekan kemahirannya kembali. Ia ditemani seorang pekerja, tukang kayu juga bernama Bass (Brad Pitt) yang berasal dari Kanada. Bass terkejut saat Platt menyahuti ceritanya tentang Kanada. Bass adalah kebalikan dari Epps. Ia tidak menyukai perbudakan, bahkan menentangnya. Melihat gelagat seperti itu, Platt pun mencoba mencari kemungkinan lagi. Ia meminta tolong pada Bass agar menuliskan surat untuknya, dan mengirimkannya pada seseorang yang ia kenal. Bass merasa hal itu sangat sulit, namun ia berjanji akan mengusahakannya. Platt tidak terlalu berharap banyak pada kemungkinan kali ini.





Suatu hari, Tuan Epps sangat marah sekali ketika tak bisa menemukan Patsy di mana-mana. Tak ada yang tahu kepergiannya. Begitu Patsy datang, ia langsung memarahinya. Ia tak percaya pada keterangan Patsy bahwa ia hanya meminta sabun kepada Nyonya Shaw, karena Nyonya Epps tak pernah memberikan padanya. Tubuhnya terlalu bau karena ia bekerja lebih keras daripada yang lainnya. Lagi pula ini adalah hari Sabath, ia berhak berdoa pada Tuhannya. Tuan Epps yang terlanjur marah, meminta Patsy untuk diikat dipohon dan dicambuki. Ia meminta Platt yang melakukannya. Tentu saja Platt melakukannya dengan pelan-pelan. Nyonya Epps mengompori suaminya bahwa Platt hanya pura-pura mencambuk. Tidak ada luka dipunggung Patsy, katanya. Lah, dulu pas suaminya bertengkar di hari Sabath, dimaki-maki. Sekarang, demi dendam pribadi, jadi tidak apa-apa, gitu? Monster deh mereka semua.
Dengan ancaman pistol dan pembunuhan pada seluruh budak, Platt pun mencambuk lebih keras. Darah memuncrat tiap kali cambukan. Teriakan Patsy semakin mengenaskan. Platt mencambuk sambil menangis. Ia tak tahan lagi dan berhenti. Tuan Epps merebut cambuk dari Platt dan melanjutkan hukuman itu sampai Patsy tak sadarkan diri dan ambruk ke tanah. Aku tidak berani memajang lukanya di sini, terlalu waw untuk dibayangkan. Kulit super koyak di sekujur punggung, tak mampu kubayangkan rasa sakitnya. Para budak wanita mengobati luka Patsy dengan menangis. Mereka pun putus asa karena tak mampu melakukan apapun. Platt yang sangat marah, menyepi di pinggir rawa, hendak memainkan biolanya. Tapi biola itu sudah terlalu tua, tak lagi bisa dimainkan. Senarnya putus saat Platt menyetelnya. Platt pun semakin marah dan menghancurkan biolanya.








Platt dan Bass melanjutkan pekerjaan membuat Gazebo. Ia meminta tolong sekali lagi agar Bass mau menolongnya. Ia bercerita tentang penculikannya. Setelah ini, Bass harus kembali lagi ke Kanada. Hingga suatu hari setelah lama sepeninggal Bass dari perkebunan itu, ada seorang Sherif yang menyerukan nama Solomon Northup. Sheriff itu membawa seseorang di kereta kudanya. Awalnya, Platt hampir lupa dengan namanya. Ia senang sekali ada yang mengenalnya. Sheriff itu bertanya beberapa hal untuk mengkonfirmasi identitasnya. Tentu saja Solomon menjawab semuanya dengan tepat. Lalu, ia diminta untuk mengenali seseorang di kereta kuda. Ia Tuan Parker, pemilik toko langganan Solomon dan keluarga dulu. Tuan Epps keluar rumah mendengar keributan itu. Ia tidak terima budaknya hendak diambil. Tapi, Sheriff mengancam dengan hukum, karena Solomon punya bukti kuat bahwa ia adalah manusia merdeka. Solomon pergi dari perkebunan itu dalam keadaan seperti mimpi, diiringi tangisan Patsy yang merasa kehilangan, dan makian Tuan Epps yang terdengar di kejauhan.


Solomon kembali ke rumahnya dulu di Saratoga Spring. Kedua anaknya sudah besar, sudah menikah. Ia bahkan sudah punya cucu. Tetapi istrinya sepertinya sudah tiada. Sejak saat itu, ia memperjuangkan kasus penculikannya, namun hukum Negara itu masih membela orang kulit putih dan membebaskan para penculiknya. Ia juga terus membantu para budak pelarian untuk mendapatkan kebebasan. Tak ada yang tahu pasti tentang kematian Solomon Northup, orang yang penuh inspirasi dalam film ini.

12 Years A Slave Part 2

 Tuan Epps (Michael Fassbender), pemilik perkebunan kapas tempat Platt mengabdi berikutnya, adalah orang yang angin-anginan. Ia baik hati, tapi juga mudah marah jika ada yang tidak pas dengan hatinya. Ia adalah penganut injil yang setia secara bahasa, jadi ia menanggap dirinya adalah tuan yang mutlak, yang berhak melakukan apapun pada para budaknya. Kesalahan pemahaman pada kitab suci, yang hanya diartikan menurut kepentingan pribadi, memang sangat berbahaya. Ia menargetkan para budaknya, untuk memanen kapas sedikitnya 200 pound sehari. Jika kurang, maka akan mendapat hukuman cambuk. Diantara para budaknya, ada satu yang menjadi favorit Tuan Epps, yaitu Patzy (Lupita Nyong’o), perempuan muda kesayangan Tuan Epps karena selalu memanen sekitar 500 pound sehari. Dua kali lipat dari yang diharapkan.  Selain memberinya julukan sebagai ratu ladang, Tuan Epps juga kerap mengunjungi kamar Patzy untuk mendapatkan pelayanan pribadi. Tentu saja hal itu dilakukan atas dasar paksaan. Bukan hal yang menyenangkan bagi Patsy untuk mendapatkan tugas lebih seperti itu. Apalagi, istri Tuan Epps (Sarah Paulson), sangat mencemburuinya, bahkan sering berbuat kasar padanya karena suaminya lebih perhatian padanya.






Pernah suatu malam, Tuan Epps membangunkan semua budak untuk berkumpul di dalam rumahnya. Mereka diajak berpesta dan disuruh menari, dengan Platt sebagai pemain biola, dan budak lain memainkan seruling. Tuan Epps menyuruh mereka semua untuk lebih semangat menari. Tentu saja Patsy lah yang paling bersemangat. Ia menari dengan lincah, memancing amarah Nyonya Epps karena melihat suaminya tak bergeming menatap Patsy menari. Dengan serta merta, Nyonya Epps mengambil sebuah botol minuman dari kristal tebal dan melemparkannya tepat di wajah Patsy. Patsy berteriak kesakitan. Tuan Epps dan Platt terhenyak menyaksikan kekasaran itu. Para budak hanya terdiam mendengar pertengkaran Tuan dan Nyonya mereka tentang menjual Patsy ke pertanian lain. Tuan Epps tetap pada pendiriannya, mempertahankan Patsy karena ia paling menguntungkan dalam memanen. Dan malam itu, Nyonya Epps sukses dipermalukan di depan para budak. Tuan Epps meminta para budak untuk melanjutkan menari. Ia tak ingin mood nya rusak karena insiden itu. Sementara itu, Patsy diseret kembali ke kamarnya.


Terompet pagi, menjadi pertanda semua pekerja harus bangun dan memulai hari. Di tempat Tuan Ford dulu berupa lonceng. Di ladang kapas, Tuan Epps sendiri yang mengawasi pemanenan. Ia mencambuki siapapun yang beerja dengan malas-malasan. Siangnya, Platt mendapat tugas khusus dari Nyonya Epps, yaitu mengambil belanjaan di Bartholomew. Nyonya Epps memberinya catatan belanja yang dilihat Platt sebentar, yang membuat Nyonya Epps mencurigai asal usulnya. Namun Platt meyakinkan Nyonya Epps bahwa ia hanya sedikit mengerti tulisan dan tak bisa menulis. Nyonya Epps kembali menegaskan bahwa Platt hanyalah budak yang dibeli untuk bekerja. Ugh… pasangan Tuan dan Nyonya ini sungguh menyebalkan deh.


Platt segera berangkat untuk mengambil belanjaan nyonyanya. Di tengah jalan, ia sempat memutuskan untuk melarikan diri. Akan tetapi, ia tersesat dan malah melihat dua orang budak yang akan digantung karena mencoba melarikan diri. Ia pun urung melakukannya. Setelah itu, ia menyadari bahwa belanjaan nyonyanya selalu ada kertas di dalamnya. Ia memutuskan, suatu hari akan mengambil kesempatan dengan selembar kertas itu untuk mengubah hidupnya.



Suatu hari di hari Sabbath, Patsy berkunjung ke rumah temannya, istri baru tuan Shaw, sesama pemilik perkebunan kapas di perkebunan sebelah. Nyonya Shaw (Alfre Woodard), dulunya juga budak. Sama seperti Patsy, ia mendapatkan kunjungan istimewa setiap malam, dan sekarang hidupnya berkecukupan. Platt bertugas menjemput Patsy, karena ia tidak ingin Patsy juga dirayu oleh tuan Shaw. Platt, Patsy dan Nyonya Shaw mengobrol sebentar sambil minum the layaknya sesame manusia merdeka. Saat Platt dan Patsy pulang, Tuan Epps sudah menunggu di beranda dalam keadaan mabuk. Platt tahu keadaan itu tidak akan baik untuk Patsy. Dengan sebuah bisikan, ia meminta Patsy untuk menyingkir. Tuan Epps marah karena mengira Platt menghasut Patsy. Platt mengelak melakukan hal itu. Tuan Epps hendak memukuli Platt, namun Platt selalu menghindar. Aksi kejar-kejaran mengitari kandang babi pun menjadi hiburan tersendiri di film yang menegangkan ini.



Tuan Epps bahkan membawa belati untuk melukai Platt. Karena ia mabuk, ia terjerembab di pinggir kandang. Ia menertawakan dirinya sendiri yang menodai hari Tuhan dengan kekerasan (Sabbath itu miik Yahudi apa Kristiani sih?) ia meminta tolong pada Platt untuk membantunya berdiri. Platt membantunya dan mendapat hadiah sebuah pukulan. Pertarungan tadi bisa jadi berlangsung kembali jika Nyonya Epps tidak muncul di sana. Nyonya Epps mengutuki suaminya yang bertengkar di hari Sabbath. Ia juga memaki kelakuannya terhadap Patsy. Tuan Epps mendengus kesal terhadap Platt yang seolah mengadukan dirinya pada istrinya.


Platt masih terjaga saat ia melihat Tuan Epps menyelinap dan membawa Patsy ke kebun belakang, dan memperkosanya di atas tumpukan kayu. Kali ini Patsy tidak bereaksi. Ia hanya diam saja seperti sebatang kayu. Tuan Epps yang tahu ia salah, malah marah melihat Patsy seperti itu. Ia menampar, mencekik dan memukuli Patsy yang tetap saja diam. Akhirnya, ia menyerah sendiri dan meninggalkan Patsy begitu saja setelah selesai dengan urusannya. Keesokan harinya, Plat mengutil selembar kertas dari belanjaan majikannya.


Pesta dansa masih berlangsung di rumah itu. Para budak masih di suruh menari. Kali ini tanpa semangat seperti sebelumnya. Tuan Epps sendiri hanya duduk diam dan melamun. Nyonya Epps membagikan kue pada semua budak kecuali Patsy. Ia menuduh Patsy meremehkannya di depan suaminya. Tuan Epps membela Patsy seperti biasanya, dan mendapat makian lagi dari istrinya. Kali ini, Patsy tidak mendapat lemparan botol, tapi sebuah cakaran yang menyakitkan di bekas lukanya. Tuan Epps tak mau menambah masalah, pergi meninggalkan ruangan itu. Nyonya Epps tersenyum puas dan meminta para budak lain makan sepuasnya. Mereka hanya menatap miris. Bagaimana bisa makan coba kalau suasananya sehoror itu. Aneh memang orang jaman dulu. Manusia kok disebut binatang. Patsy yang putus asa, membangunkan Platt di tengah malam. Ia memberikan sebuah cincin emas pada Platt, agar Platt mau membunuhnya dan membuang mayatnya di rawa-rawa. Tentu saja Platt tidak bersedia karena itu adalah tindakan gila meski mengatasnamakan belas kasihan. Platt dengan tegas menolak permintaan itu.




Suasana lain terjadi di perkebunan. Tanaman kapas diserang hawa ulat. Terpaksa, para budak dikirim ke perkebunan sebelah. Tuan dan Nyonya Epps menyalahkan hama itu sebagai kutukan dari para budak baru yang mereka beli. Lihat deh monolog Tuan Epps waktu memaki tanah perkebunannya, aneh sekali. Ia mengantar para budaknya ke perkebunan rotan milik Hakim Turner. Dan adegan di awal film pun diulang. Berikutnya, Hakim Turner yang mengetahui bakat Platt, meminta Platt untuk bermain biola di sebuah pesta pernikahan, dan ia boleh mengambil upahnya. Tentu saja Platt senang sekali. Ia mempersiapkan biolanya, dan mengukir nama istrinya dan kedua anaknya di biola itu. Platt bermain dengan baik di pesta itu.

12 Years A Slave Part 1

Menonton film ini, membuatku merasa bersyukur, betapa kemerdekaan itu sungguh membahagiakan. Rezeki hidup merdeka, seringkali terlupa, tertutupi keinginan untuk terus menumpuk harta dunia. Saya harus sangat berterima kasih pada para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Negara kita. Andaikan sampai saat ini kita masih dijajah, mencari uang akan susah, beribadah susah, bahkan berbicara saja susah. Merdeka, berarti segalanya.

Bersetting Amerika lama, film ini menyuguhkan penderitaan yang nyata ada, sekaligus pemandangan pedesaan yang indah tiada tara (menurutku sih, tapi tetap lebih indah pedesaan kita hehehe). Amerika yang menklaim negaranya sebagai Negara paling beradab, tahun 1800-an masih melegalkan perbudakan. Padahal, mereka menuduh perbudakan itu bar-bar. Kita, bangsa yang dijajah, perbudakan ada di tahun sebelum masehi, zamannya kerajaan Ken Arok dan kawan-kawan. Itu pun menurut sejarahnya, perbudakan sudah mulai dihapuskan. Jadi, patutlah kita bangga pada bangsa sendiri, karena sebenarnya, kita jauh lebih beradap.




Diilhami dari sebuah kisah nyata, yang telah dituangkan dalam sebuah biography sekitar tahun 1800-an. Adegan awal dimulai dengan sebaris orang-orang kulit hitam berwajah pasrah, hanya satu diantara mereka yang ekspresinya menahan amarah. Dia adalah Solomon Northup, tokoh utama dalam film ini, diperankan oleh Chiwetel Ejiofor. Solomon adalah seorang Afro-Amerika merdeka (bukan budak) yang bekerja sebagai tukang kayu professional sekaligus seorang pemain biola yang berbakat. Ia menjalani kehidupannya sebelum bercerita, sebagai seorang budak yang tinggal di rumah pertanian dan peternakan. Hidup satu ruangan campur lelaki dan perempuan, membuatnya putus asa. Ia tak lagi bernafsu pada dunia. Bahkan, ketika ada budak latin berusaha menggodanya, ia hanya diam, mematung, mati rasa. Keinginannya hanya satu, mengirim kabar pada keluarganya, bagaimanapun caranya. Adegan awal saat Solomon makan berry, ia sadar berry itu bisa jadi tinta. Ia hendak menulis, tapi merasa frustasi dan membatalkannya.

 



Ia mengingat keluarganya. Istrinya yang manis, dua anaknya yang menyenangkan. Dulunya, mereka hidup bersama dengan bahagia di Saratoga Spring, New York. Hari itu, hari terakhir ia bertemu dengan keluarganya, adalah saat ia mengantar istrinya naik kereta kuda, hendak menuju ke rumah orang tuanya. Ia sendirian di rumah, didatangi oleh dua orang kulit putih yang diperkenalkan oleh temannya. Mereka menawarinya bekerja sebagai pemain biola di sebuah sirkus tingkat internasional selama dua minggu, dengan tawaran gaji yang sangat menggiurkan. Solomon pun tergoda, dan ia bersedia ikut bersama kedua orang itu, ke Washington, untuk makan dan minum-minum hingga mabuk. Ia terbangun dalam keadaan bingung. Tangan dan kakinya ter-rantai. Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Ia muntah, lalu tidur di sebuah kamar hotel, dan tiba-tiba, bangun di lantai, dengan setelan jas yang sudah terlucuti, dan kaki serta tangan dirantai.



Seseorang masuk ke dalam ruangan tempat ia terbangun dengan bingung. Solomon tahu ia diculik, dan hendak menjelaskan pada orang yang datang itu, bahwa ia bukanlah budak. Ia adalah Solomon Nothup dari Saratoga, yang seluruh penduduknya adalah orang merdeka. Orang kulit putih di hadapnnya dengan sinis berkata, bahwa mulai sekarang, Solomon bukan lagi orang merdeka. Ia diberi identitas baru sebagai budak pelarian dari Georgia. Dan sebagai bukti bahwa Solomon itu diperbudakkan, orang kedua yang ikut masuk, menarik ujung rantai hingga Solomon terjerembab dalam posisi merangkak. Dengan kejinya, orang yang pertama memukuli punggungnya dengan tongkat kayu. Solomon berteriak kesakitan. Tetap bersikeras bahwa ia orang merdeka, Solomon mendapat tambahan cambukan dari ikat pinggang kulit. Bekas luka itu, cukup menjadi tanda bahwa ia benar-benar budak sekarang. Karena, orang merdeka tak akan mendapatkan perlakuan seperti itu. Orang itu terus memukuli Solomon hingga kelelahan dengan sendirinya. Solomon tak tahan lagi. Ia jatuh berguling, menangis kesakitan. Ia mengintip dari jeruji di ruangan itu, berteriak minta tolong pada siapapun yang mendengarnya. Gedung putih terlihat menjulang di seberang. Lambang sebuah ketidakadilan, dari dulu hingga sekarang.



Orang kedua yang menarik rantai masuk kembali, membawa sedikit makanan dan pakaian. Ia meminta baju Solomon yang telah koyak, diganti dengan kain blacu yang kasar. Kemudian, ia dusuruh mandi, bersih-bersih diri dengan ember dan air seadanya.  Mereka yang mandi, semua punya bekas luka dipunggung. Kecuali seorang anak kecil, yang terus merengek meminta kedaatangan ibunya. Solomon mendiamkan anak itu, takut ia akan mendapat pukulan juga jika terus merengek seperti itu.


Kemudian, ia dikumpulkan bersama budak-budak lain yang memang budak, yang akan dijual bersama. Solomon dan kawan-kawan, di naikkan ke dalam kereta barang, ditutup dengan kain terpal, menuju ke pelabuhan. Tiga lelaki dewasa, dua anak, lelaki dan perempuan, bersama Eliza, ibu mereka, meringkuk sekenanya di atas peti barang. Mereka naik kapal, bersama budak-budak lain yang sudah ada di kapal. Solomon membuka pembicaraan tentang kemungkinan memberontak. Tapi, karena yang lain kebetulan memang terlahir sebagai budak, tidak punya pemikiran lain kecuali pasrah. Kecuali, perasaan tidak terima karena hendak dijual kembali. Satu-satunya nasehat yag Solomon ingat adalah, tidak gegabah, dan tidak banyak bicara. Terbukti, budak yang protes, mulutnya dirantai.

Kapal pun semakin berjalan menjauh, menuju New Orleans. Tengah malam, seorang kulit putih yang mabuk mendekati Eliza, hendak memperkosanya. Budak yang tadi mulutnya dirantai, tidak terima dan hendak menolong Eliza. Dengan entengnya, ia mendapatkan tujukan bertubi-tubi di perutnya. Sambil melarung mayat budak itu, Solomon mendapatkan pelajaran lagi, untuk terus bertindak hati-hati.




Setibanya di pelabuhan berikutnya, Solomon memperhatikan sekitarnya. Para kulit hitam yang menjadi budak, para kulit hitam yang berjalan-jalan merdeka bersama keluarganya. Ia jadi ingat pada keluarganya, yang berjalan-jalan, mengunjungi toko langganannya milik Tuan Parker yang sekaligus adalah kawannya. Saat namanya dipanggil, ia tak menggubris, karena ia dipanggil dengan sebutan “Platt”, sebuah nama budak untuk dirinya.




Ia disuruh bersih-bersih lagi. Kali ini, campur lelaki perempuan. Tujuan dari bersih-bersih itu adalah, para budak akan dipajang, dalam keadaan telanjang, untuk dipilih oleh para pembeli. Seperti dagangan ternak, ditepuk-tepuk, dicubit, dan sebagainya. Platt (Solomon), nanti aku tulis Platt saja ya, dipilih oleh seorang pemilik peternakan bernama William Ford (Benedict Cumberbatch). Tuan Ford memilih Platt dan Eliza. Namun, Eliza berkeras ingin dibawa bersama anak-anaknya. Hanya saja, pedagang manusia itu tidak menjual paketan, jadi tuan Ford harus membayar sangat mahal jika ingin membawa anak-anaknya. tuan Ford tidak berani. Uangnya tidak mencukupi. Terpaksa, Eliza diseret menjauh dari anak-anaknya. jerit tangispun memenuhi ruangan itu. Kalut, Platt memainkan biola yang ada di meja belakangnya.







Sepanjang jalan, Eliza menangisi anak-anaknya. Platt hanya termangu menyesali nasibnya. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Nyonya Ford menanyakan mengapa Eliza menangis. Tapi ya… begitu saja. Seperti barang, sudah dibeli yang sudah, tak ada urusan lagi dengan perasaan. Bersama dengan para budak lain yang dimiliki Tuan Ford, Platt bekerja sebagai tukang tebang pohon, dipimpin oleh seorang tukang kayu bernama John Tibeats (Paul Dano). Awalnya, Tibeats adalah orang yang menyenangkan. Ia menyemangati para pekerjanya dengan lagu “run niger run”. Platt memandangi rawa-rawa di sekitar, dan menyampaikan idenya untuk menghemat waktu, tenaga dan biaya. Platt bercerita bahwa ketika ia menjadi tukang kayu dulu, ia membawa kayu gelondongan melewati sungai, jadi lebih praktis. Ia pun mencontohkan bagaimana membawanya. Semua terpesona, termasuk Tuan Ford sendiri, ia senang memiliki budak berbakat. Dari situlah awal kedengkian Tibeats padanya.







Platt memarahi Eliza karena masih terus menangis. Eliza mencibir Platt karena tidak tahu rasanya menjadi seorang ibu yang terpisah dari anak-anaknya. Apalagi, sekarang Platt adalah kesayangan Tuan Ford, pastinya ia merasa lebih senang. Eliza menasehati, bagaimanapun, Tuan Ford adalah pelaku perbudakan. Sebaik apapun, ia tidak akan melepaskan Platt meski ia bercerita tentang identitas aslinya. Dan Eliza benar. Tuan Ford, bertindak sebagai pengkhutbah, mengajari Kristiani pada budak-budaknya setiap minggu pagi. Eliza masih terus menangis mengganggu suasana. Akhirnya, Eliza dijual kembali. Platt memulai tugas lain, membangun sebuah gubuk, dengan Tibeats sebagai pengawasnya. Tibeats yang dengki, mulai membuat gara-gara. Ia marah-marah tanpa sebab, menyalahkan ini itu, dan tidak terima jika Platts menjawab kemarahannya. Ia pun memukul Platt. Spontan, sebagai orang merdeka, Platt membalas pukulan itu, dan berhasil memojokkan Tibeats. Tibeats pun semakin dendam kepadanya. Ia pergi, untuk kembali lagi, berkuda bersama dua orang temannya, menyeret Platt ke sebuah pohon besar, hendak menggantungnya di sana. Tapi, mandor perkebunan keburu datang dan menggagalkan pembunuhan itu. Ia menembakkan senapan, membuat Tibeats dan kawan-kawannya lari dengan sumpah serapah di mulut mereka. Mandor itu tidak melepaskan tali gantungan. Dan tidak berniat melakukannya, karena ia tahu Platt tidak akan mati. Ujung jarinya masih menyentuh bumi. Dengan kepayahan, Platt mempertahankan posisinya, agar ujung jari kakinya tidak terpeleset di tanah yang becek, hingga ia tergantung dengan sendirinya. Platt dalam posisi seperti itu, dari pagi, hingga malam menjelang, tak ada budak lain yang berusaha menolongnya. Mereka takut karena mandor perkebunan terus mengawasi mereka. Tapi, diam-diam, ada seorang budak yang memberinya minum. Menjelang malam, Tuan Ford pulang, dan melihat Platt yang berayun di pepohonan. Ia memutuskan tali dan membawa Platt ke dalam rumah untuk sedikit perawatan. Sambil berjaga-jaga, karena ia tahu Tibeats masih mengintai di sekitar. Platt bercerita tentang identitas aslinya. Dan seperti kata Eliza, Tuan Ford tidak mau dengar. Ia sudah banyak hutang karena membelinya. Maka, demi keselamatan Platt, ia akan mengirimnya ke Tuan yang baru, pemilik perkebunan kapas.