Jumat, 28 Juni 2013

Unstoppable Part 6

Sinopsis Unstoppable Part 6
 
 
 
 Mereka hampir sampai tikungan Stanton. Frank mengintruksikan  untuk menggunakan rem tangan sesuai aba-abanya. Keretapun melewati tikungan dengan selamat, meski ada beberapa muatan pipa besi yang jatuh saat kereta miring. Operator di Brewster pun bersorak sorai . Mereka berhasil.

 
Tapi, kereta tetap tak mau berhenti. Parahnya lagi, Frank terjebak di gerbong yang tidak bisa ia sebrangi, sementara rem kereta 1206 mati. Muncul lah Nedd, yang mengejar kereta dengan mobil. Ia meminta Will untuk lompat ke bak pickupnya. Will melompat dan sedikit terjerembab karena kakinya yang sakit.
 
 

 
Aksi kejar-kejaran kereta pun berakhir manis. Dengan susah payah, sambil bergelantungan hampir jatuh, Will akhirnya bisa masuk ke loko kereta 777 dan menghentikan keretanya. Ia menangis bahagia. Frank juga berteriak penuh kemenangan. Semua yang menonton bersuka cita dan bersyukur bisa menghindari tragedi.
 
 
Will disambut dengan peluk dan cium dari istri dan putranya. Acara jumpa pers berlangsung dengan menyenangkan dan mengeratkan hubungan Will dan Frank.  Connie datang untuk memberi selamat pada mereka. Nicole dan adiknya kegirangan seolah bersiap untuk nemu ibu baru, hehe. Selesai.

Epilog: Frank masih boleh bekerja lagi, tapi ia memilih pensiun, tunjamgannya dibayar penuh. Posisi Gavin digantikan oleh Connie. Will tidak jadi bercerai, ia hidup bahagia dan sedang menantikan anak ke dua nya. Dan, akar dari tragedy ini, si lalai Dewey, sekarang bekerja di restoran cepat saji. 


Unstoppable Part 5

Sinopsis Unstoppable Part 5

 
 Darcy, istri  Will, dibangunkan kakaknya. Ia melihat berita yang menayangkan misi penyelamatan Will dan Frank. Nicole dan adiknya juga menonton dari tempat mereka bekerja. Semuanya merapalkan doa untuk orang-orang yang mereka sayangi.
 
 
 
 
Nedd terus mengejar kereta menggunakan mobil dengan dikawal beberapa mobil polisi. Di berita ditayangkan prosedur pengaitan kereta 1206 dengan kereta 777. Will menawarkan bantuan pada Frank untuk memberi aba-aba dari belakang kereta. Will pun berkomunikasi lewar radio dan isyarat tangan. Kedua kereta menempel, tapi ternyata kaitnya belum tersambung. Will turun untuk menyambungkan secara manual. Karena benturan, kargo paling belakang kereta 777 pun rusak dan isinya berhamburan. Sepertinya kedelai. Banyak sekali, hingga menghalangi pandangan Will. Sekali lagi kereta berbenturan. Will terjatuh dan terlihat seolah terjepit diantara dua kereta. Helikoter tivi bahkan kehilangan jejak Will di celah itu. Para penonton di rumah menahan napas melihatnya. Mereka berharap yang terbaik.
 
Ternyata Will bergelantungan dengan kaki berdarah-darah. Frank yang tadi sempat berteriak panik karena Will menghilang, begitu lega saat Will kembali ke loko dengan kaki berdarah-darah. Hanya ada satu alat P3K di loko itu untuk menghentikan pendarahannya, yaitu lakban (whattt??). Lumayan sih, daripada berdarah-darah.
 
 
 
Kereta tetap tidak mau melambat. Will pun mengusulkan untuk mengaktifkan rem di tiap gerbong. Frank setuju, namun ia melarang Will beranjak. Ia akan melakukannya sendiri. Ia member intruksi singkat pada Will agar menjaga kecepatan tidak melebihi  40 mil per jam.
Frank pun mulai beraksi. Ia mengaktifkan rem per gerbong secara manual. Ia berjalan di atap kereta untuk menuju tiap gerbong.


Kamis, 27 Juni 2013

Unstoppable Part 4

Sinopsis Unstoppable Part 4
 
Frank mendapat peringatan dari pusat kalau daerah Arklow sudah dievakuasi. Karena rencana pertama gagal, Galvin mencontek rencananya Connie, yakni menganjlokkan kereta. Connie pun teriak frustasi karena sekarang sudah terlambat untuk menganjlokkan. Resikonya lebih besar karena ada pemukiman.

 
 
 
 
Layar menunjukkan peta kereta 777 dan keretanya Frank. Mereka akan beradu di satu jalur dan jaraknya sudah dekat. Terlihat kerlip lampu tanda kereta datang. Frank dan Will agak panik. Frank menelepon putrinya hanya untuk mengatakan bahwa ia menyayangi mereka (seolah siap mati saja). Di depan mereka ada jalur persimpangan. Kereta 12-06 membelok ke jalur simpang. Wuihhhh…. Hampir saja. Gerbong paling belakang, hasil tambahannya Will, tertabrak karena tidak muat berada di jalur simpang.
 
 
Frank mengamati laju kereta 777 yang melintas di jalur sebelahnya. Ia melihat kait di gerbong paling belakang di posisi terbuka. Ia pun keluar loko diikuti Will yang bertanya-tanya. Frank mengutarakan idenya untuk menahan laju kereta dari belakang. Will tidak setuju karena percobaan tadi sudah gagal dan memakan korban jiwa. Frank bersikeras untuk menjajal kemungkinan itu. Setelah melalui diskusi yang agak alot, Will pun akhirnya ikut.
 
 
 
 
 
Adegannya kebanyakan radio talk, jadi tak ambil yang penting aja. Frank menyampaikan idenya pada Connie yang ternyata sedang terhubung dengan Galvin. Sudah diputuskan kereta itu akan dianjlokkan, tapi Frank malah berkata bahwa penganjlokan itu tidak akan berhasil. Gavin mengancam akan memecat mereka jika tapi Frank dan Will tidak peduli. Frank malah berkata bahwa Galvin sudah memecatnya 72 hari yang lalu dengan pesangon separuh. Tonton saja deh, dialognya asik banget di bagian ini. Connie senang sekali ada yang berani mendebat Gavin. Will bahkan tersenyum riang saat Frank memutuskan koneksi dengan berpura-pura sinyalnya putus-putus (jadi sering lihat adegan seperti ini deh, tipuan klasik ya? Hahaha)
 
Para petugas berjaga-jaga di tempat eksekusi penganjlokan. Frank mulai menjalankan lokonya dengan arah mundur mengejar kereta 777. Sambil jalan, ia menanyai kisah Will dengan istrinya. Will pun bercerita sambil sesekali diinterupsi suara Connie yang memberitahukan lokasi dan kecepatan kereta 777.
 
 
Di tempat penganjlokan, kereta 777 tetap melaju kencang tanpa terpengaruh sedikitpun. Kereta dengan berat ribuan ton itu malah menghancurkan alat penganjlok yang sesuai standar, bentuknya mirip jungkat-jungkit. Gaovin pun frustasi. Connie malah kesenangan dan berkata pada Galvin kalau kali ini ia akan menyelamatkan muka Galvin. Kereta 777 tetap melaju kencang mendekati daerah padat penduduk.



 

Unstoppable Part 3

Sinopsis Unstoppable Part 3

Connie masuk kamar mandi dan melampiaskan kekesalannya dengan membanting pintu. Belum luntur kesalnya, ia sudah harus menerima telfon lagi. Kali ini dari wakil pimpinan kantor pusat, Tuan Galvin yang langsung memakinya begitu ia menjawab telefon. Connie mencoba dengan santainya menjawab bahwa tragedy ini disebabkan oleh kesalahan manusia dan nasib sial, tapi Galvin malah lebih mendampratnya dan menyombongkan masa kerjanya yang sudah sepuluh tahun tanpa campur tangan nasib sial. Ia menanyakan apa rencana Connie. Connie mengatakan bahwa ia akan menunggu kereta itu sampai berada di jalur pertanian dan akan menganjlokkannya. Galvin lebih marah-marah lagi karena itu akan sangat merugikan perusahaan. Connie tahu itu. Ia akan memboroskan bahan bakar kereta dan muatan solar di dalamnya. Ternyata, kereta 777 tidak hanya membawa muatan solar saja, tapi juga bahan kimia beracun dan mudah terbakar yang digunakan untuk bahan bakar lem. Galvin menolak penganjlokkan itu dan meminta Connie untuk menunggu keputusannya setelah rapat yang tidak melibatkan Connie di dalamnya (what??).
 
 
Di sebuah perlintasan kereta, sudah banyak polisi berjaga-jaga. Mereka menghentikan beberapa truk yang lewat. Tapi, ada satu truk kru televisi yang nekat mendekati perlintasan kereta meski sudah dihalangi. Tiba-tiba, ada sebuah truk yang tidak tahu kalau perlintasan itu ditutup, mengerem mendadak, membuat truknya tergelincir dan menabrak truk di depannya, membuat truk di depannya itu berada persis di tengah rel. Ternyata, truk yang di tengah rel itu memuat dua ekor kuda. Pemiliknya berusaha dengan susah payah mengeluarkan kuda itu dari truk. Tapi kuda itu malah panic dan berjingkrak-jingkrak di tengah rel, sementara kereta semakin mendekat. Untungnya, kuda itu berhasil diselamatkan, namun truknya hancur tertabrak kereta.
Operator meminta kereta 12-06 untuk berpindah jalur, namun Frank bersikeras bahwa gerbongnya tidak akan muat jika ia berbelok di jalur simpang. Will sudah akan menarik tuas belok tapi Frank melarangnya. Setelah dipikir-pikir, akhirnya Frank memperbolehkan Will menekan tuasnya.
 
 
Stasiun tivi menyiarkan pendapat orang-orang atas tragedy ini. Terlihat kekacauan di beberapa tempat. Sementara itu, Galvin sedang mengadakan rapat bagaimana mengatasi kereta tanpa awak itu dengan beberapa pemimpin pusat lainnya (sepertinya sih), sedangkan dirut utamanya yang dikabari akan menanggung kerugian ratusan juta dolar, sedang bermain golf dengan para koleganya. Potret ketimpangan profesi dimana-mana memang seperti itu ya?
 
 
 
 
Tanpa mengabari Connie (mungkin dipikirnya itu tidak penting), Galvin membuat keputusan sendiri untuk menghadang kereta 777 dan menahannya dengan kereta lain dari depan. Para polisi berjaga-jaga untuk eksekusi keputusan itu. Masinis Stewart, masinis senior teman Frank yang  mengemudikan kereta penghadang. Kereta 777 melaju semakin kencang mendekati kereta penghadang. Rencananya, jika kereta tersambungkan, seorang prajurit terlatih yang baru saja pulang dari perang Afganistan akan mengaitkan kedua kereta itu dan masuk ke kereta 777 untuk menghentikannya. Tapi, apa yang terjadi Saudara-saudara? Scott, nama prajurit itu, gagal melaksanakan tugas. Ia tergelincir di atap kereta dan terperosok masuk ke kereta 777 saat kereta penghadang tak mampu menghambat laju kereta 777, malah terdorong semakin cepat. Sepertinya ia terluka parah. Tubuhnya terkulai penuh luka-luka di tali yang tersambung dengan helikopter. selain ketegangan, film ini juga menyuguhkan pemandangan alam yang cantik.
 
Judd Stewart tetap mencoba menghambat laju kereta. Connie marah-marah saat tahu ide konyol Gavin itu, karena ia tahu resikonya adalah nyawa. Merasa tindakannya akan berakhir sia-sia, Judd memilih untuk pindah jalur. Sialnya, saking cepatnya ia terdorong, keretanya tergelincir, terlempar, hancur berantakan, lalu meledak, dengan Judd masih di dalamnya. Satu nyawa melayang, misi belum selesai.