Minggu, 22 Desember 2013

Perfume: The Story of A Murderer Part 3



  Grenouille menikmati perjalanannya. Hidungnya mengeksploitasi berbagai aroma. Ia merasa sangat bahagia. Udara terasa lebih bersih dan murni. Aroma rumput kering, rumput basah, berpadu di sekitarnya. Ia memilih melewati tempat yang rumit. Hutan belantara, bukit batu, hingga tiba di sebuah gua. Ia masuk, dan menyukai gua itu karena hampir tidak ada aroma di dalamnya. Hanya ada aroma batu mati yang dominan. Grenouille merasa nyaman. Setelah beberapa lama tak menikmati kesendirian, ia pun merebahkan diri di gua itu, terbebas dari aroma apapun yang akan mengusiknya. Ia merasa tenteram. Keinginan dan segala obsesinya memudar. Ia merasakan tidur yang sangat memuaskan. Hingga, mimpinya tentang gadis itu berubah, dan ia tersentak terbangun dari tidurnya, penuh brewok di dagunya, dan pakaiannya berbau tanah, lumut dan batu. Tapi, ada satu bau yang tidak ada di sana. Bau tubuhnya. Waw, dia tidur berapa lama ya?
    Ia melepas seluruh pakaiannya, mandi air hujan dan tetap mendapati bahwa tubuhnya tidak menguarkan aroma apapun. Ia jadi sadar bahwa selama ini ia bukanlah siapa-siapa. Tak ada yang menghargainya. Ia akan binasa, sendirian dan terlupakan. Dan ia tidak ingin menjadi seperti itu. Saat matahari bersinar keesokan harinya, semangat Grenouille pun menyala. Ia memutuskan, harus meneruskan perjalanannya ke Grasse. Ia ingin membuktikan keahliannya di sana.



    Jalanan yang ia lewati begitu indah. Hamparan ladang lavender menyambutnya di sepanjang perjalanan. Dan, seolah mengingatkan tujuan lamanya, ia di suguhi aroma yang ia impikan selama ini. Aroma gadis. Kereta kuda yang membawa Laura Richi masih jauh di belakang Grenouille, tapi ia sudah bisa mencium aromanya. Diantara hamparan lavender, ia tahu bedanya. Grenouille menunggu di balik pohon. Dua ekor kuda gemuk menarik sebuah kereta. Di dalamnya, seorang gadis berambut merah melongok dari jendela, memperhatikan pemuda compang-camping di sisi jalan. Grenouille begitu mabuk akan aroma gadis itu. Ia menghirupnya kuat-kuat, dan buru-buru menyusul laju kereta.



    Grenouille sampai di gerbang kota. Setelah menunjukkan surat jalannya, ia pun melanjutkan menelusuri jejak aroma gadis itu. Ia melewati lorong gedung-gedung, undakan-undakan di sepanjang jalan. Tempatnya bagus. Hingga tiba di sekitar rumah gadis itu. Hebat ya. Sayangnya, rumah itu berpagar tinggi. Grenouille menghirup dalam-dalam jejak aroma yang ditinggalkan gadis itu. Rasa rindu membayang di pelupuk matanya, seolah ia ingin segera menghambur untuk mengendusnya. Ia pun tak kurang akal. Dengan memanjat pohon di sisi pagar, ia melompati pagar itu. Ia bisa merasakan di mana keberadaan gadis itu di dalam rumahnya. Air matanya menggenang saat gadis itu muncul di loteng. Tatapan itu penuh cinta. Tapi itu bukanlah cinta. Itu adalah sebuah obsesi, sebuah kerinduan akan aroma. Ia menguntit laura yang kebetulan keluar ke kebun rumahnya. Ia bersembunyi di balik pusara ibu Laura. Laura tak menyadari kehadiran seseorang di balik pusara itu. Ekspresi wajahnya menyiratkan kepedihan. Grenouille benar-benar menikmati kedekatannya dengan gadis itu. Namun, ia tak berani berbuat apapun, hingga gadis itu kembali ke dalam rumah.

 
    Grenouille bekerja di sebuah tempat penyaringan aroma bunga. Atau, meminjam istilahnya Giuseppe Baldini, enfleurege. Beberapa pekerja ada yang sedang memetik bunga di ladang. Seorang gadis yang baru bekerja di sana sedang digoda rekan kerjanya. Di pabriknya, beberapa pekerja sedang mengerjakan seni menangkap aroma itu. Adonan seperti Vaseline dioleskan ke baki, lalu di atasnya disusun bunga berjajar-jajar. Majikan di sana adalah seorang wanita paruh baya (aku belum tahu namanya). Ia memarahi seorang pekerja yang dengan ceroboh menjejalkan bunga-bunga itu begitu saja ke dalam baki. Ia menyuruh pekerja itu untuk meniru Grenouille. Woaaa… Grenouille sudah bercukur rapi. Madam itu mengatakan bahwa seni enfleurage adalah membuat bunga itu mati perlahan untuk menyerap aromanya, jadi harus diperlakukan hati-hati, seperti memperlakukan wanita.
    Mandor di tempat itu, sepertinya kekasih sang madam, merasa tidak suka pada perlakuan berlebih kekasihnya terhadap Grenouille.  Untuk melampiaskan kekesalannya, Druot, sang mandor, menyuruh Grenouille untuk memeriksa bunga yang sedang di suling di ruangan sebelah. Grenouille mengendusi baunya, sehingga, tanpa melihat tabung itu, ia bisa mengatakan bahwa bunga itu belum siap untuk di tiriskan. Hal itu membuat Druot semakin marah. Ia menggetok kepala Grenouille dan memintanya untuk mematuhinya. Grenouille pun beranjak ke ruangan sebelah dan melakukan apa yang harus dilakukan.


    Di sebuah gubuk di tengah ladang lavender, dua orang pekerja, laki-laki dan perampuan, yang tadi siang saling menggoda saat memanen bunga, sedang bermesraan di atas tumpukan jerami. Si gadis menggoda pasangannya dengan menolak  ajakan si pria untuk bermesraan dengan lebih lagi, dengan merajuk dan memanjat panggung tambahan di gubuk itu menggunakan tangga. Si pria hendak menyusul ke atas, tapi si gadis menggodanya lagi dengan mendorong jatuh tangga itu dan menimpa si pria. Pria itu meringis kesakitan dan marah. Ia berteriak-teriak, kemudian meninggalkan gadis itu di atas sendirian, tanpa tangga. Setelah pria itu pergi, gentian gadis itu yang berteriak minta diambilkan tangga. Ia melihat seberkas sinar lampu dari celah kayu di lantai. Ia pikir, kekasihnya kembali. Tangga terpasang di hadapannya, tapi wajah pemasangnya tak jua muncul.





    Adegan berganti ke tempat Grenouille melakukan penyulingan. Kali ini bukan bunga yang ada di dalam tabung. Tapi, tubuh telanjang gadis yang terjebak di gubuk lavender tadi. Mengambang. Mati. Grenouille pasti berniat untuk mengekstrak aroma gadis itu. Ada suara orang datang. Buru-buru Grenouille menutupi tabung itu dengan kain yang sangat lebar hingga tertutup seluruhnya. Ternyata pengantar bunga. Perempuan tua yang kepo alias serba ingin tahu. Ia menanyakan macam-macam metode enfleurage. Grenouille menjelaskan dengan resah. Wanita itu penasaran dengan sesuatu yang tertutup kain. Ia hendak mengintipnya, tapi Grenouille menghentikannya dengan suara keras. Kebetulan, majikannya datang (eh, apa kesialan ya?. Ia juga bertanya mengapa tabungnya ditutupi kain. Dengan wajah yang kalut, tapi sikap tetap tenang, Grenouille menjelaskan bahwa ia sedang melakukan percobaan untuk menjaga aroma bunga dari sinar matahari, agar aromanya lebih tajam. Majikannya mengiyakan saja dan pergi karena hendak membayar si pengantar bunga. Drout yang ikut datang juga penasaran. Ia mengetes minyak yang keluar dan membauinya. Sayangnya, ia tak mencium aroma apapun. Wajah kalut Grenouille berubah kecewa luar biasa. Tapi, dengan tetap tenang, ia pun menjawab, berarti percobaannya kali iini gagal. Dengan Drout yang masih memandanginya dengan curiga, Grenouille malah memikirkan cara lain untuk mengekstrak aroma manusia.




    Malam harinya, Grenouille menyewa seorang pekerja seks komersial. Setelah bernegoisasi harga, wanita itu pun melakukan permintaan Grenouille, yaitu, membuka seluruh pakaian, dan berbaring diam. Wanita itu membawa seekor anjing mungil berbulu lebat. Grenouille mngeluarkan peralatannya. Sekaleng lemak hewan (yang dulu kubilang mirip Vaseline), serta alat pengoles. Grenouille mengusapkan lemak hewan ke tangan wanita itu, membalutnya dengan kain, dan memintanya untuk bersikap rileks. Wanita itu bertanya macam-macam, membuat Grenouille tidak nyaman. Sebenarnya, wanita itu juga tidak nyaman. Cenderung takut malah. Setelah dirasa waktunya cukup, Grenouille mengeluarkan sebuah alat pengerok yang mirip sabit. Ketakutan wanita itu akhirnya tidak dapat dibendung lagi. Meski Grenouille memperingatkannya untuk tenang, ia tetap bangkit dan melepas kain di tangannya. Ia mengomel membelakangi Grenouille. Grenouille memukul tengkuk wanita itu dengan tongkat. Saat wanita itu pingsan, Grenouille mengoleskan lemak hewan ke kain lebar, dan membungkus wanita itu, seluruh tubuh, agar mati pelan-pelan, seperti mengekstrak bunga yang diajarkan Madam Arnulfi. Ia bahkan mencukur habis rambut wanita itu untuk di ambil sarinya. Anjing wanita itu hanya meringkuk di pojokan.
    Di kamarnya, Grenouille mencampur lemak hewan yang sudah ia kerok, dan yang sudah ia peras dari rambut, mencampurnya dengan air (atau alcohol?), memanasinya, dan menyulingnya. Ia mencoba tetesan pertama hasil percobaannya kali ini. Dan ia berhasil. Namun, ia masih butuh pembuktian. Jadi, saat para polisi menemukan mayat wanita itu keesokan harinya, Grenouille mengawasi dari balik tembok di kejauhan. Anjing wanita itu meratapi majikannya. Grenouille meneteskan essen wanita itu di punggung tangannya. Anjing itu langsung berbalik dan berlari ke arahnya, serta menjilati tangannya, seolah sudah kenal lama. Grenouille tersenyum gembira. Ia memutuskan, mulai hari ini, ia akan menciptakan cord parfumnya sendiri.

Perfume: The Story of A Murderer Part 2




Di sudut lain di tengah kota Paris, kehidupan berdenyut semakin cepat. Para wanita semakin wangi dan mempesona. Tidak bagi Giuseppe Baldini. Ia diperankan oleh Dustin Hoffman? Pangling saya, hehe. Giuseppe Baldini adalah masa lalu bagi dunia per-parfum-an di Paris. Ia pernah jadi maestro parfum yang digandrungi. Tapi sekarang, tokonya sepi. Gara-gara parfum Amor and Psyche, ia jadi terlihat kehilangan selera beraroma. Ia masih berdiri dengan terkantuk-kantuk menjagai tokonya yang sekarang berdebu. Kostumnya menunjukkan tingkat sosialnya. Pakaian ala Napoleon dan wig putih keriting sosis yang rapi. Wajahnya pun di make up putih sekali. Sepertinya begitulah kebiasaan pria Paris jaman dulu. Asistennya menerobospintu masuk dan langsung disambut dengan bentakan karena belum mengenakan wig. Ia hendak melimpahkan menjaga toko pada asistennya itu, karena ia perlu berkonsentrasi membuat parfum pesanan pelanggannya yang menginginkan Amor and Psyche ala dirinya. Ia mencibir parfum itu, sekaligus penasaran. Asistennya memahami kegalauan hati tuannya. Ia mengeluarkan sebotol kecil Amor and Psyche yang ia beli saat perjalanan tadi. Awalnya, Baldini mengelak. Tapi, asistennya meyakinkannya untuk mulai bekerja. .  Ia meneteskan sedikit minyak wangi itu ke sapu tangan dan mengibas-ngibaskan di depan hidungnya. Mereka membahas kandungan inti dari parfum itu, tapi tak menebak selanjutnya.  Baldini pun berteriak meminta sapu tangan lagi pada pelayannya, lalu masuk ke kantornya untuk mulai mengetes minyak wangi itu lagi.
Mula-mula, ia membersit hidungnya untuk menetralkan aroma. Lalu, dengan sapu tangan yang bersih, ia meneteskan Amor and Psyche, mengibaskannya di depan hidung, menghirup aromanya, dan menuliskan beberapa aroma yang ia kenali. Berkali-kali ia mencoba, tetap ada beberapa yang tidak tertebak, hingga ia frustasi dan tertidur di kursinya. Ia terbangun saat mendengar bunyi bel di bagian gudang. Ada yang datang. Grenouille berkunjung untuk mengantarkan pesanan kulit padanya. Baldini mempersilahkannya masuk. Grenouille terpesona pada aroma yang terkumpul di ruangan itu. Ia tidak mengenali banyak di antaranya. Setelah meletakkan kulit sesuai perintah, ia diminta untuk kembali besok karena Baldini akan membayarnya besok. Grenouille menyela dengan bertanya, apakah kulit itu akan dibikin wangi? Baldini mengiyakan. Grenouille bertanya apakan dengan Amor and Psyche. Baldini, yang terkejut dengan pertanyaan lelaki di hadapannya yang terkesan tak pernah tahu menahu dengan minyak wangi, melontarkan pandangan: dari mana kau tahu?



Grenouille menjelaskan bahwa wangi parfum itu tercium dari seluruh tubuh Baldini, bahkan ada di jalan-jalan di hampir seluruh kota Paris, persis seperti yang dikatakan asistennya tadi. Grenouille mengatakan bahwa Amor and Psyche bukanlah parfum yang baik, karena terlalu banyak mengandung rosemary. Ha! Bahkan Baldini tidak menebak adanya rosemary. Orange blossom, iya. Lemon, iya. Ia yang hendak kembali ke kamar, mengurungkan niatnya. Grenouille mengatakan bahwa ia bahkan bisa menunjukkan apa saja bahan parfum itu, tapi ia tidak tahu namanya, dan bahan-bahan itu ada di sini. Baldini mencibirnya, bahkan mengata-ngatainya. Grenouille menyela bahwa ia bahkan bisa membuat parfum itu karena ia memiliki hidung terbaik di Perancis. Baldini memakinya karena tidak sopan menyela perkataan orang tua. Ia tidak percaya bakat mampu menciptakan parfum begitu saja, tanpa tahu ilmu dasarnya. Grenouille berkeras bahwa ia bisa. Ia mengambil beberapa botol minyak essen dan sukses membuat Baldini terpana karena sebagian besar bahannya tidak tertebak olehnya. Grenouille bahkan menantang untuk membuatkan berapa banyakpun Amor and Psyche yang Baldini inginkan, meski ia tidak tahu ilmu dasar dan takarannya. Ia mengambil toples besar untuk percobaan, yang langsung diambil oleh Baldini dan di gantikan dengan botol paling kecil. Meski merasa sayang dengan minyak essen nya yang mungkin akan terbuang sia-sia, ia tetap penasaran bagaimana hasilnya, jadi ia mengizinkan Grenouille mencobanya.
Grenouille mulai menuangkan beberapa essen dari botol, yang membuat Baldini agak khawatir karena botol-botol itu tidak diperlakukan dengan lemah lembut (iyalah, wong pekerja kasar kok lemah-lembut). Setelah selesai, Grenouille mengocok hasil karyanya kuat-kuat. Ia mendapat marah dari Baldini karena cara yang dipakainya semuanya menyalahi aturan pembuatan parfum. Alcohol harusnya dituang paling akhir, tapi Grenouille memasukkannya pertama kali. Parfum tidak boleh dikocok, tapi malah tadi dikocok keras-keras. Grenouille masih tanpa ekspresi, menyerahkan hasil karyanya. Baldini mengambil sapu tangan, meneteskan minyak wangi ala Grenouille dengan pipet, mengibaskannya, dan terpesona. Di tangannya, ada sebotol Amor and Psyche yang sempurna.




Bagi Grenouille, tetap saja itu bukanlah parfum yang sempurna. Ia meminta diberi kesempatan lagi untuk menciptakan parfum yang lebih sempurna. Baldini membiarkan saja. Maka, tanpa tahu apa yang akan ia ambil, Grenouille berjalan ke sana kemari mengambil beberapa minyak essen sesuai tuntunan hidungnya. Ia menambahkan beberapa tetes dari botol yang ia ambil ke dalam Amor and Psyche yang sudah jadi tadi. Baldini memperhatikan dengan terbengong-bengong karena tahu tiap nama dari botol itu pasti menjadi perpaduan yang bagus. Saat selesai, Grenouille hendak mengocoknya lagi, tapi ia urungkan hingga akhirnya hanya ia putar pelan-pelan. Ia menyerahkan hasilnya pada Baldini untuk di coba. Tapi, karena harga dirinya terluka dikalahkan oleh orang dari antah berantah, ia menolak mencobanya dan mengusir Grenouille. Sebelum menutup pintu, Grenouille memohon untuk dipekerjakan, karena ia ingin belajar cara mengawetkan aroma. Baldini, dengan enggan mengatakan bahwa ia akan memikirkannya, lalu menutup pintu.
Sepeninggal Grenouille, Baldini mengambil parfum yang ditinggalkannya tadi di atas meja. Tanpa sapu tangan, ia menghirup langsung dari botolnya, dan langsung merasakan sensasi luar biasa. Angin berhembus semilir di sekitarnya. Ruangan itu menjelma bak taman bunga yang indah, dengan segala keharumannya di sana. Seorang wanita muncul mengecupnya sebagai perlambang bahwa parfum itu menebarkan aroma cinta. Baldini sadar, ini benar-benar wewangian yang hebat. Akhirnya, ia memutuskan untuk membeli Grenouille di tempat penyamakan kulit. Harganya jauh lebih mahal daripada saat ia dijual dulu. Tentu saja majikannya senang sekali. Grenouille yang menguping pembicaraan mereka, tersenyum puas. Majikannya mabuk-mabukan dengan uang yang banyak itu, hingga ia tertabrak kereta dan mati (heh? Kenapa orang-orang yang ditinggalkan Grenouille selalu mati?).



Baldini mempekerjakan Grenouille di tokonya. Dan secara ajaib, kalau tak bisa disebut kerja keras, tokonya kembali hidup dan laris luar biasa. Bahkan melebihi kejayaannya di masa lalu. Dan bagi Grenouille, ia belajar banyak hal. Termasuk ilmu dasar penyusunan  wewangian. Seperti halnya tangga nada dalam music, parfum juga memiliki nadanya sendiri. Ada tiga cord dalam minyak wangi. Setiap cord mengandung empat essen, jadi total ada dua belas essen. Harus sangat berhati-hati memilihnya agar aromanya pas. Tiga cord itu adalah, cord luar, cord inti, dan cord dasar.


Cord luar adalah wewangian pembuka, ringan, berlangsung beberapa menit saja, berganti ke cord inti yang merupakan tema dari parfum itu, yang wanginya harus bertahan beberapa jam. Lalu, cord dasar, yang akan menjadi jejak dari parfum itu, yang mampu bertahan selama beberapa hari. Grenouille mendengarkan secara seksama penjelasan yang disampaikan majikannya itu. Apalagi, saat Baldini memjelaskan tentang legenda essen ke tiga belas, legenda parfum Firaun, yang ditemukan di makamnya setelah bertahan ribuan tahun di dalam tanah. Parfum yang sangat halus, sekaligus kuat. Parfum yang jika dihirup, akan memunculkan sensasi seolah di surga. Tapi, sejauh ini, belum ada yang berhasil menemukan essen ke tiga belas. Karena itu hanya legenda. Dan Baldini marah saat Grenouille menanyakan, mengapa belum ada yang menemukannya. Wah … wah … bukan guru sih ya, jadi ya marah dan tidak suka kalau harus menjelaskan berulang-ulang.
Grenouille mengamati ke dua belas tabung dasar minyak wangi itu. Ia mengingat seluruh aromanya. Saat tidur, ia bermimpi tentang gadis penjual plum lagi. Ia masih terpesona pada aromanya. Dan ia menyadari, bahwa aroma paling dahsyat di dunia ini bukanlah parfum buatan tangan, melainkan aroma manusia itu sendiri. Tidurnya terusik dengan keras saat Baldini membangunkannya. Grenouille terlonjak kaget, membuat Baldini juga ikut-ikutan kaget. Lebih kaget lagi, saat Grenouille tiba-tiba mencengkeram lengannya dan merajuk agar segera di ajari tentang cara mempertahankan aroma, dan segala ilmu yang tuannya punya. Ia akan bermain di balik layar dan membuat tuannya jadi ahli parfum paling hebat sedunia. Baldini menyukai ide itu, ia pun tersenyum mengiyakan.




Pemandangan bawah deret toko di jembatan itu menakjubkan. Sungai lebar kecoklatan, sampan berseliweran. Deretan toko itu sendiri sudah merupakan pemandangan yang cantik. Sebuah sampan berhenti di bawah jendela toko Baldini. Sampan itu membawa berkeranjang-keranjang kelopak bunga mawar. Keranjang itu dikerek ke dalam gudang. Baldini sedang mengajarkan cara membuat essen mawar. Sepuluh ribu mawar untuk membuat satu ons minyak essen mawar (what? pantesan parfum asli mahal banget). Mawar itu di rebus di sebuah tungku, dan minyaknya dialirkan lewat pipa ke tungku yang lain dengan mekanisme yang rumit. Alat itu adalah hasil karya Baldini sendiri. Baldini menceritakan banyak hal hingga meninggung soal Grasse, pusat aroma di Perancis, surga parfum yang dijanjikan. Grenouille tertarik dengan tempat itu. Baldini mengatakan, tidak ada orang yang bisa disebut ahli parfum, kecuali dia sudah membuktikan kemampuannya di Grasse. Tiba-tiba, ruangan itu bergetar. Beberapa serpihan tembok berjatuhan. Baldini menenangkan dengan mengatakan bahwa hal seperti itu biasa terjadi. Ternyata, proses pembuatan minyak essen itu memakan waktu super lama. Baldini sudah tertidur di kursinya di depan tungku, sedangkan Grenouille masih tetap terjaga. Ia begitu takjub saat tetes pertama dari minyak mawar itu keluar. Ia pun membangunkan tuannya.
Esoknya, Grenouille mengumpulkan banyak benda di sekitar sungai. Rantai, kayu, sepatu kuda, macam-macam. Ia merebus benda-benda yang ia temukan untuk menyimpan aromanya. Baldini sedang tidur di kamarnya saat mendengar suara benda berkelontangan dan teriakan dari gudang. Ia segera menghambur ke sana. Grenouille sedang berjongkok di depan tungku, seolah frustasi. Benda-benda berantakan di sekitarnya. Begitu Baldini mendekat, Grenouille langsung menyemburkan kata-kata bahwa tuannya itu telah berbohong. Baldini terkesiap dengan kekasaran anak buahnya itu. Harusnya kan sudah sadar ya, wong dari dulu memang kasar. Grenouille menyodorkan beberapa gelas untuk dibaui, tak ada aroma apapun. Ia membanting pecah tiap gelas yang tak beraroma. Lalu, Baldini mengintip ke dalam tungku dan terkejut sekaligus marah karena Grenouille sedang merebus kucingnya. Euwh, waw. Lugu ya lugu, tapi yang ini sepertinya sakit jiwa. Bodoh yang tak tertolong kah?
Sebenarnya, Grenouille hanyalah orang jenius yang frustasi. Ia berusaha menangkap aroma besi, tembaga dan sebagainya dengan cara yang diajarkan tuannya. Karena itu, saat air yang keluar tak beraroma apapun, ia merasa dibohongi. Baldini marah-marah sambil menjelaskan bahwa ia tak mungkin bisa menyaring aroma kucing, ataupun manusia. Mengetahui kenyataan itu, Grenouille pun jatuh pingsan. Baldini memanggil dokter. Sepertinya Grenouille sakit parah, karena muncul ruam di sekujur tubuhnya. Dalam kondisi sekarat, ia masih bermimpi tentang aroma gadis penjual plum. Ia terbangun mendapati tuannya duduk di sampingnya, mengkhawatirkan dirinya yang akan mati. Grenouille bertanya apakah ada cara lain untuk menangkapa aroma selain dengan tungku penyaring? Baldini pun menceritakan tentang cara enfleurage, tapi Baldini tidak tahu caranya. Grenouille bertanya lagi, apakah ia bisa mempelajarinya di Grasse? Baldini mengiyakan.



Tekad yang kuat memang cepat menyembuhkan. Dalam satu minggu, Grenouille sudah pulih. Ia memutuskan akan pergi ke Grasse. Dalam rangka perjalanan sekaligus untuk mencari pekerjaan, ia membutuhkan surat jalan dari tuannya. Baldini pun setuju dengan syarat, Grenouille harus memberinya seratus formula baru. Grenouille tidak keberatan. Ia bahkan bisa member seribu.
Grenouille berangkat ke Grasse. Baldini yang ditinggalkan merasa senang sekali. Akhirnya, ia mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Gelar ahli parfum terbaik pasti akan diraihnya. Ia tidak pernah merasa sesenang ini dalam hidupnya. Ia pun tidur sambil memeluk buku formula hasil karya Grenouille, dan tak pernah terbangun lagi. Karena, gedung tempat ia tinggal sekaligus tokonya, roboh, hancur rata dengan tanah, dengan Baldini di dalamnya. Tuh, kan … yang ditinggal Grenouille mati lagi. Pertama ibunya, lalu ibu asuhnya, terus tuan di tempat penyamakan, sekarang tuan di toko parfum. Wah, kira-kira di Grasse dia akan berubah sehebat apa ya?

Perfume: The Story of A Murderer Part 1

Film Eropa (German) yang berdasarkan novel tahun 1985 yang berjudul ‘Perfume’ karya Patrick Suskind, menceritakan tentang kisah seorang maestro parfum yang mungkin namanya tidak akan pernah kita kenal di zaman sekarang, karena satu dan berbagai hal. Film ini mengambil setting di Paris kuno, sekitar tahun 1800-an. Film berdurasi 147 menit ini disutradarai oleh Tom Tykwer.
Pertama kali, rasanya malas sekali menonton film ini, karena setting awalnya gelap. Eh, ternyata ceritanya menakjubkan. Penasaran aja sih sama judulnya, keren sepertinya. Benar-benar keren lho. Tonton deh kalau tidak percaya. Apalagi kalau sebelumnya atau sesudahnya nonton Les Miserables, klop deh, serasa dibawa jalan-jalan terus ke kota Paris zaman baheula, hehehe. Kita mulai saja ya sinopsisnya.

Cast:
Ben Wishaw as Jean-Baptiste Grenouille
Dustin Hoffman as Giuseppe Baldini
Karoline Herfurth as Gadis penjual buah plum
Rachel Hurdwood as Laura Richis
Alan Rickman as ayah Laura
Dan lain-lain.


Adegan pertama. Gelap. Sesosok wajah seorang pemuda muncul di layar. Wajah dan tubuhnya kotor. Posturnya kerempeng dan pucat. Ada rantai yang membelenggu tangan dan kakinya. Ia berada di dalam penjara. Terdengar kegaduhan di depannya. Beberapa petugas dengan tergesa-gesa membuka pintu selnya, lalu menyeretnya keluar, menuju ke balkon luar gedung penjara. Penjara itu berdinding dan berlantai batu. Lagi-lagi, gelap menyelimuti. Dengan tertatih-tatih pemuda itu mengikuti seretan peetugas. Sampai di balkon, ia disambut ribuan orang yang menyerukan kemarahan mereka kepadanya. Ekspresinya seolah mengatakan: memangnya apa yang salah denganku?


Jaksa menuntut petugas untuk segera membacakan vonis bagi pemuda itu. Jean-Baptiste Grenouille, diputuskan akan menjalani eksekusi besok pagi, dengan cambukan tongkat besi yang akan meremukkan seluruh belulangnya. Ngeri kan? Lebih ngeri lagi, orang-orang yang di bawah sana mengangkat senjata apapu yang mereka bawa, garpu rumput, parang, dan sebagainya, bersorak mendengar hukuman bagi Grenouille. Ternyata, sadis berjamaah itu merindingkan bulu roma, asli. Vonis berikutnya adalah, setelah tulang belulangnya remuk, dalam keadaan hidup, ia akan digantung, dan jasadnya akan dibiarkan jadi santapan burung bangkai. Waw.
Sebenarnya, apa yang membuat orang-orang itu sangat marah? Apa yang sudah diperbuat oleh Grenouille? Jawabannya, ada di alur flashback film ini.


Jean-Baptiste Grenouille di lahirkan di sebuah tempat paling berbau busuk di sebuah sudut di kota paris, yaitu pasar ikan. Ibunya yang sedang mengandungnya, berjualan ikan di sana. Tempat itu sepertinya dingin, kotor, air hitam di mana-mana, dan becek. Bahkan, orang-orangnya pun kotor dan lusuh. Tiba-tiba ibunya merasa akan melahirkannya. Ia langsung masuk ke dalam kios yang tertutup kain. Ini adalah kelahirannya yang ke lima. Jadi, ia tidak begitu panic menghadapinya. Ia berjuang melahirkan sendirian, dan untungnya, lancar. Bayi itu lahir tanpa menangis berlebihan. Dengan gesit, ibunya langsung memotong tali pusar bayi itu dan menyingkirkannya ke tumpukan sampah tulang ikan yang basah, hitam, busuk, amis, penuh belatung dan tikus, serta dingin, berharap ia akan ikut terbuang ke sungai bersama sampah-sampah itu. Keluarganya terlalu miskin untuk menambah anggota. Lalu ia kembali berdiri dengan susah payah dan pucat untuk melayani pembeli. Di atas tumpukan sampah, tubuh bayi itu menggigil kedinginan. Hidungnya mengendus aroma di sekitarnya, bersiap untuk berteriak pada dunia bahwa ia ada. Pembelinya menanyakan apakah ia baik-baik saja. Sebelum ibu itu sempat menjawab, terdengar tangisan bayi yang sangat keras. Pembeli itu dan beberapa orang langsung  melongok ke dalam kios dan mendapati bayi mungil teronggok begitu saja. Orang-orang pun langsung menuduh bahwa ibu itu berniat membunuh anaknya (memang iya). Aneh memang kalau sudah kalap. Dikandung dengan berat selama Sembilan bulan hanya untuk dibunuh setelah dilahirkan? Gak salah tuh? Jadi, begitulah. Begitu lahir, Grenouille sudah mengantar ibunya ke tiang gantungan karena percobaan pembunuhan. Waw, karma berbalik.
Pemerintah mengirim Grenouille ke sebuah panti asuhan. Atau sepertinya tidak tepat seperti itu, karena pemilik panti itu membayar sejumlah uang untuk mendapatkan anak-anak. Sudah ada puluhan anak di dalam panti, yang lagi-lagi, gelap, dingin dan kumuh. Seorang anak lelaki sangat marah saat ia harus berbagi tempat tidur dengan Grenouille yang saat itu berada di keranjang. Ia mengajak teman-temannya untuk menyingkirkan bayi itu. Bayi itu mengendus aroma di sekitarnya. Penasaran, anak laki-laki itu mendekatkan jarinya ke wajah si bayi, yang langsung di tangkap dengan erat, dan diendus di hidungnya. Buru-buru anak laki-laki itu melepaskan jarinya, mengambil bantal dan mendekapkan ke wajah Grenouille. Tentu saja bayi itu menangis keras. Ibu panti yang seperti orang lelah dan marah, lebih marah lagi melihat tingkah anak-anak itu. Grenouille tetap hidup, anak-anak itu mendapat hadiah pukulah berkali-kali. Pada saat itu, seluruh anak panti tahu, bahwa Grenouille pastinya istimewa.


Saat Grenouille berumur lima tahun, ia belum bisa bicara dan tak punya teman. Anak-anak panti takut padanya karena ia punya kebiasaan aneh, yaitu mengendus sesuatu. Ia menikmati seluruh aroma yang ia temui. Aroma tanah, aroma rumput, aroma apel busuk, apel matang, dan bangkai. Ia hanya memilahnya, tanpa tahu bau itu enak atau tidak, pokoknya bau. Tidak ada bedanya bunga dan bangkai, tidak ada bedanya busuk dan tidak. Otaknya otomatis mengenali dan menyimpan aroma, tapi tak mampu ia utarakan kembali. Ketika mengendus bangkai, ia tahu ada aroma belatung yang sedang menggerogoti di dalam sana.
Saat usianya tiga belas tahun, saat ia mulai berbicara, ia penasaran karena tidak semua aroma ada namanya. Ia bisa mencium aroma air kolam, mengenali batu basah di dalamya, aroma ikan yang berenang, lumut, kodok, dan semuanya ia hirup dari kejauhan. Tapi ia tak bisa mengenali aroma telur kodok karena tak tahu namanya. Begitulah, ia mengenal semua aroma di sekitarnya, tapi tak tahu namanya. Kemudian, ibu asuhnya menjualnya ke tempat penyamakan kulit di pinggiran kota. Ia dihargai murah, dan uangnya langsung lenyap karena ibu asuhnya dirampok dan di bunuh, bahkan sebelum jauh dari tempat penyamakan kulit itu.


Tempat penyamakan kulit adalah tempat yang berbahaya bagi kesehatan. Banyak bahan kimia yang terlibat di dalamnya. Tapi, Grenouille bekerja dengan keras, 15-16 jam sehari, tanpa bicara, tanpa mengeluh, hanya bekerja. Majikannya terkesan akan kerajinannya itu. Sering, setelah selesai bekerja, Grenouille menatap kerlip kota di seberang sungai, dan berharap bisa berkunjung ke sana, karena pastinya banyak aroma yang belum ia jelajahi di luar sana. Sampai adegan ini, warna dalam film ini masih buram, hitam, krem dan coklat.

 





Suatu hari, harapannya terkabul. Majikannya mengajaknya untuk melakukan pengiriman kulit ke kota. Ia selalu ketinggalan langkah karena sibuk dengan aroma baru yang ia hirup. Aroma kota dan orang-orangnya benar-benar berbeda. Tampilan layar juga sudah mulai warna-warni, tidak lagi kotor dan kumuh. Wanita-wanita cantik berseliweran dengan kereta kuda. Toko-toko parfum menyemprotkan minyak wangi pada para pelanggan, dan sebagainya. Saat majikannya sedang melakukan transaksi, ia menyelinap untuk berjalan-jalan menikmati aroma dengan lebih leluasa. Di sebuah toko parfum, seorang master sedang memamerkan parfum andalannya, Amor and Psyche. Parfum yang sedang trend saat itu. Grenouille mengintip dari jendela, menyesap aromanya. Tiba-tiba, ia menghirup aroma lain, yang menggelitik hidungnya, memancing otaknya untuk berkata: aku suka. Ia mengikuti aroma itu, dan tertumbuk pada seorang gadis penjual buah plum. Gadis itu lusuh, tapi cantik dan bersih. Grenouille mengikuti gadis itu kemanapun, berharap tidak kehilangan aromanya. Ia tidak berani dekat-dekat, tapi ia tetap tahu gadis itu berjalan ke mana. Tahu diikuti, gadis itu berbalik. Ia menawarkan plum pada Grenouille. Namun, Grenouille hanya terpana dan tak bereaksi apapun, malah menarik tangan yang menyodorkan buah itu, membawanya ke hidungnya dan mengendusnya. Gadis itu kaget dan takut, lalu melenggang pergi. Grenouille tetap mengikuti. Tapi, ada saatnya ia kehilangan jejak. Ia mencari ke sana kemari mengandalkan penciumannya. Ia melewati kerumunan orang dan beberapa petugas yang sedang menyalakan kembang api. Ia terkesima sekejap, lalu kembali menelusuri jejak aroma gadis itu. Aromanya menuntunnya ke lorong gedung-gedung. Gadis itu sedang duduk di emperan gedung, hanya beratap kain seadanya, dengan sepasang bangku dan meja. Ia sedang mengupas plum, tanpa tahu ada seseprang yang sedang mendekatinya. Grenouille begitu dekat, tapi gadis itu tak merasakan kehadirannya. Grenouille mengendus-ngendus rambut gadis itu, lehernya, tengkuknya. Akhirnya, gadis itu terkesiap. Antara bingung dan takut, ia menatap sosok di depannya. Ia hendak berteriak saat ada sepasang kekasih berjalan kea rah mereka. Dengan sigap Grenouille membekap mulut gadis itu, menunggu pasangan itu berciuman di depan mereka lalu pergi. Mereka berada di sudut yang gelap, jadi tidak ada yang menyadari apa yang terjadi. Gadis itu meronta, dan akhirnya kehabisan nafas tanpa Grenoille sadari. Gadis itu mati di tangannya. Grenouille hanya bengong. Sepertinya ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini. Bukannya mengkhawatirkan dirinya yang telah membunuh, ia malah panic karena aroma gadis itu memudar seiring hilangnya nyawa. Ia merobek pakaian gadis itu, mengendus setiap inci tubuhnya, menikmati aromanya. Sia-sia. Gadis itu tak lagi beraroma. Ia frustasi, dan meninggalkan mayat gadis itu begitu saja. Grenouille kembali ke tempat penyamakan kulit hanya untuk mendapat cambukan dari majikannya karena telah melarikan diri, dan ia menerima pukulan itu dengan ekspresi biasa saja. Malam itu, ia tidak bisa tidur karena terus kepikiran aroma gadis itu. Ia jadi terobsesi, dan berniat untuk menemukan cara mengawetkan aroma.

Note:
Bagian pertama tidak begitu indah ditonton, karena ya itu, gelap, kumuh, kotor  dan menjijikan. Saya mengkategorikan karakter Jean-Baptiste Grenouille adalah orang lugu yang sakit jiwa. Karena dibesarkan di  tempat yang tidak layak, ia tidak diajari sopan santun dan beberapa pengetahuan dasar  yang akan memuaskan rasa penasarannya pada aroma. Kemampuan penciumanya yang sedetail anjing, membuatnya jadi manusia istimewa, yang sayangnya, karena tidak didukung oleh pengetahuan itulah, ia jadi seenaknya (wong yang pada sekolah saja sering seenaknya ya?)
Film ini banyak adegan tidak pantas nya. Tidak dianjurkan ditonton anak-anak. Bukan adegan sex yang bagaimana… begitu. Tapi, banyak ketelanjangan yang diekspose dalam rangkaian pembunuhan. Juga, banyak kekerasan yang tidak patut ditonton anak-anak. Apalagi, ceritanya terlalu gelap untuk dicerna. Saat adegan  mengendus di bagian terakhir dengan gadis penjual plum itu, adegannya bisa dibilang erotis, tapi juga manis. Rasa penasaran lebih dimaklumi daripada kejahatan itu sendiri (menurutku lho, kalau menelaah karakternya si Grenouille). Kepolosan itu membuatnya tak mengerti bahwa yang dilakukannya adalah sebuah kejahatan. Ia hanya tahu, dan hanya peduli pada petualangan aromanya. Mungkin, karena di tempat ia dibesarkan, nyawa tidak ada harganya ya? Kasian orang-orang yang hidup di tempat yang tidak mengajarkan kebenaran. Okkkeeeh… kita lanjutkan ke bagian 2 ya … saya belum tahu akan jadi berapa bagian, semoga tidak terlalu banyak.



Minggu, 08 Desember 2013

The Conjuring Part V

    Lorraine melompat keluar dari ruang bawah tanah itu dan langsung menyampaikan kesimpulannya setelah bertemu Batsyeba. Ia mengatakan bahwa para ibu yang dulu tinggal di rumah ini juga dirasuki Batsyeba untuk membunuh anak-anak mereka. Begitu juga dengan Carolyn, itu menjelaskan mengapa di sekujur tubuhnya muncul memar-memar.


    Tiba-tiba, seluruh salib mungil yang di letakkan Ed di sekitar ruangan itu terjungkal berjatuhan. Ada yang menjambak rambut Nancy, tak kelihatan, tapi kuat.  Nancy diseret ke sana ke mari oleh kekuatan yang tak tampak. Berkali-kali Ed dan ayah mencoba untuk menangkapnya tapi selalu meleset. Saat tertangkap, Lorraine buru-buru mengambil gunting dan memotong rambut Nancy. Ed memastikan bahwa  Drew sudah merekam semuanya.


    Dengan buru-buru, ayah langsung membawa seluruh keluarganya pergi dari rumah itu. Ayah memastikan akan ada pastur pengusir setan sementara mereka pergi. Lorraine dan Ed juga sepertinya hendak pergi untuk melapor ke gereja. Lorraine menunggu di mobil ketika ia samar-samar mendengar suara Judy, putrinya, memanggilnya “ibu”. Suara itu semakin jelas saat ia mendekati danau. Wajah Judy muncul di bawah permukaan air, berenang sambil memanggil ibunya. Lorraine sontak menunduk dan mengais-ngais air. Bayangan Judy menghilang.
    Lorraine masuk lagi ke dalam rumah, meraih telepon dan menghubungi ibunya yang sedang menjaga Judy. Untungnya, kata ibunya yang kebingungan dengan telepon tiba-tiba itu, Judy baik-baik saja. Ed yang juga khawatir, menyusul Lorraine ke dalam rumah. Ed menuntut penjelasan. Lorraine yang ketakutan mengatakan firasatnya yang berarti peringatan bagi mereka. Merekapun pulang ke rumah.


    Keluarga Perron tiba di sebuah tempat sementara yang aman dari gangguan hantu. Tapi, ibu hanya diam sepanjang perjalanan, dan tidak beranjak dari mobil saat mereka sampai. Sementara, pasangan Warren ternyata belum pulang. Mereka mampir ke gereja tempat pastur yang akan melakukan ritual pengusiran setan. Pasturnya mirip Iwan Fals lho. Mereka bertiga menyaksikan hasil rekaman di keluarga Perron. Pastur agak keberatan karena anak-anak itu tidak dibaptis. Mereka harus mendapatkan izin langsung dari Vatikan. Ribet banget sih. Tapi, bagaimanapun juga, pastur itu akan melakukan yang terbaik nantinya.

Di rumah keluarga Warren.

    Judy sedang tidur di kamarnya ketika tiba-tiba lampu di kamarnya mati. Liontin berisi foto ibu dan ayahnya bergoyang-goyang, bersamaan dengan liontin milik ibunya yang tertinggal di ruang bawah tanah. Judy terbangun dari tidurnya. Ia pun turun dari ranjang dan keluar, turun ke lantai bawah. Di ujung bawah tangga, pintu ke ruang penyimpanan benda-benda ghaib yang biasanya terkunci, sekarang terbuka. Judy ingat nasehat ayahnya untuk tidak mendekati ruangan itu. Ia menyalakan lampu, melongok ke dalam ruangan itu sambil memanggil-manggil pengasuhnya. Efek seram di ruangan itu ditambahi oleh suara guntur dan kilasan cahaya kilat.

 
    Tiba-tiba, lorong menggelap dengan sendirinya. Judy masih memanggil-manggil pengasuhnya tapi tak ada sahutan. Ia ketakutan karena kegelapan itu mengejarnya. Judy lari dan masuk ke sebuah kamar. Ia mengunci pintunya. Ada yang menggedor-gedor pintu itu. Judy ketakutan, menjerit dan menutup telinganya. Kegelapan itu masuk ke dalam kamar. judy ternganga menyadari ada sesuatu di belakangnya. Kursi goyang di ruangan itu ada yang menduduki. Sosok mengerikan memangku boneka Annabelle. Judy ketakutan karena makhluk mengerikan itu menatapnya, hendak mengejarnya. Ia berusaha keluar tapi pintunya macet. Judy menggedor-gedor pintu meminta tolong. Nana mendengarnya dan berlari menuju kamar itu. Ia tak bisa membukanya. Tepat saat itu, Ed dan Lorraine tiba di rumah. Mereka langsung mendobrak kamar itu. Judy semakin ketakutan saat ayahnya menyuruhnya menjauh dari pintu, karena kursi goyang itu sekarang bergerak ke arahnya.
    Ed mendobrak lebih keras . Saat pintu terbuka, saat itu pula kursi itu melayang menabrak pintu. Untung Ed gesit menyelamatkan Judy sebelum kena. Judy menangis dipeluk ibunya, ia menceritakan tentang hantu yang menggendong Annabelle. Ed berlari ke ‘museum’ nya dan mendapati boneka Annabelle masih tersimpan rapi di lemarinya. Lorraine menghibur Judy dengan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
    Di tempat singgah sementara keluarga Perron, ayah dikejutkan dengan laporan anak-anaknya yang mengatakan bahwa ibu mereka pergi naik mobil mengajak April dan Christine, tanpa mengatakan mau kemana. Ayahpun segera menelepon Ed.
    Di mobil, ibu terlihat lebih tua. Ia menjalankan mobilnya dalam diam. Bahkan, ia juga tak menjawab pertanyaan Chaterine yang menanyakan mereka mau ke mana. Anak-anak itu ketakutan. Ed yang menerima telfon dari ayah, menyarankan ayah untuk kembali ke rumah, karena menurut Lorraine, ibu sudah dirasuki. Dan lagi, kata Andrea, saat itu ibunya berbau busuk.
    Ayah pun segera memacu mobilnya ke rumah. Tak lupa, ia berpesan pada tiga putrinya yang lain agar tak jauh dari telepon. Ed berselisih dengan Lorraine yang memaksa ikut. Mau tak mau, karena kemampuannya akan sangat berguna, Ed pun setuju istrinya ikut. Tim pembasmi hantu pun kembali ke rumah itu. Ed, Lorraine, Brad, dan Drew.
    Drew ternyata sudah menemukan Carolyn duluan saat mereka sampai di ruang bawah tanah. Carolyn sedang memegang gunting, hendak menusuk April, untung sudah dipegangi Drew. Mereka memegangi ibu dan menyeretnya keluar. Ternyata, hantu yang merasuki ibu tak menghendaki ibu keluar dari rumah itu. Tubuh ibu memar seperti terbakar waktu sampai di depan pintu. Sementara itu, April menghilang.


    Saat tubuh ibu dilepaskan, ibu langsung terjengkang dan terseret kembali ke ruang bawah tanah. Mereka menyusulnya ke sana, sementara Drew mencari April. Tubuh ibu terpental ke sana-kemari di ruangan itu. Sambil mencari April, Drew membawa Chaterine ke mobil, menyuruhnya duduk diam di sana sampai semuanya selesai. Ia juga harus menenangkan Chaterine yang panik melihat semuanya. Drew mulai mencari April ke seluruh penjuru rumah.
    Di ruang bawah tanah, ibu yang kerasukan benar-benar susah diatasi. Berkali-kali ibu melemparkan orang-orang yang memeganginya. Ibu bahkan mencekik Ed dan menggigit Brad sampai berdarah-darah. Lorraine berinisiatif mengambil sebuah kain dan menutupkannya ke kepala ibu. Ibu didudukkan di kursi dan tubuhnya diikat, bahkan diborgol. Ed memutuskan untuk melakukan ritual pengusiran setan itu sendiri, tanpa menunggu pastur Gordon, karena mereka kehabisan waktu sekarang.


    Ibu mengerang dengan suara mengerikan. Lorraine berlari mengambil buku doa, di lantai atas Drew juga berlari-lari karena belum menemukan April. Ritual pun dimulai. Ed membaca buku doa sambil mencipratkan air suci ke tubuh ibu. Ibu mengerang sangat kencang dan mengerikan. Raungannya begitu dahsyat hingga ruangan itu bergetar dan benda-benda berjatuhan. Christine yang di mobil juga merasakan ada yang aneh. Burung-menabraki mobilnya, menabraki rumah dan memecahkan kaca-kaca. Drew masih mencari April. Burung juga menabrak kaca kecil di ruang bawah tanah. Ed masih terus membaca buku doanya.
    Drew sepertinya menemukan April di bawah parket kayu di bawah meja makan. Brad dan ayah memegangi ibu yang rontaannya semakin kencang, sementara Lorraine membujuk ibu untuk melepaskan hantu itu dari dalam. Ibu harus kuat untuk selamat. Ayah tidak tega melihat ibu sepertinya kesakitan, dan meminta mereka menghentikan semua ini. Apalagi tiba-tiba ibu menyemprotkan darah dari mulutnya, ayah semakin tidak tega. Lorraine memarahi ayah  yang lemah. Kain penutup kepala ibu sobek dan menampakkan wajah ibu yang sekarang berubah jadi Batsyeba. Ayah terpana.
    Drew mengambil linggis dan merusak lantai untuk menyelamatkan April. Hantu di tubuh ibu semakin marah. Ia secara ghaib melemparkan seluruh benda di ruangan itu pada mereka. Kebanyakan adalah benda tajam. Tiba-tiba senyap. Tak ada raungan. Ed menghentikan doanya. Tubuh ibu melayang bersama kursinya. Kemudian jungkir balik. Ed meneruskan doanya dan meminta agar ibu yang bergantungan di turunkan. Ternyata ibu turun sendiri.  Ia dijatuhkan dan kursinya rusak berantakan. Lemari di sebelah Ed ambruk dan hampir menimpanya. Ibu terkekeh setelah itu. Tidak ada yang berubah. Ayah meminta Batsyeba untuk melepaskan istrinya. Tapi, Batsyeba malah mengancam akan membunuh mereka semua. Benda-benda tajam itu kembali melayang menyerang mereka. Senapan juga meletus sendiri. Saat Drew mengumumkan keberadaan April, ibu langsung berlari dan kembali meraih gunting. Ibu menerobos bagian bawah ruangan itu yang menghubungkan dengan ruang dapur, tempat di mana April berada.


    Merekapun kembali merasakan bahaya yang mengancam. Mereka segera mengikuti ibu. Lorraine yang pernah terperosok, memilihjalan lain. Belum sempat ibu menusuk April, ritual pengusiran setan itu dilanjutkan. Dengan memanggil nama Batsyeba, Ed merapalkan doa pamungkasnya, sementara Lorraine memegangi puncak kepala ibu sambil mengingatkan kenangan-kenangan indah bersama keluarganya. Ayah, sambil memeluk April yang terjepit, juga menyemangati ibu untuk mengeluarkan setan itu dari dalam tubuhnya. Wajah ibu berubah-ubah mengerikan. Sekelebat kenangan indah di pantai membayangi ibu. Ibu perlahan-lahan tenang, menatap April yang meringkuk ketakutan melihat ibunya. Tiba-tiba, ibu memuntahkan darah, banyak sekali. Wajah ibu kembali seperti semula, cantik, dan ia menangis. Setannya sudah pergi.


    Keesokan harinya, ibu dipapah keluar. Sinar matahari langsung menghapus semua memarnya. Ia memeluk April dan berulang kali meminta maaf padanya. Putri-putri nya yang lain menyusul untuk memeluknya. April mengembalikan liontin yang ia temukan pada Lorraine. Keluarga itu berpelukan dengan bahagia. Selesai.

Terima kasih sudah membaca.

The Conjuring Part IV



Kediaman keluarga Warren.
    Judy, putri mereka, membeli sepasang kalung berliontin foto. Satu yang berisi foto dirinya, ia serahkan ke ibunya, sedangkan yang berisi foto ibu dan ayahnya ia pakai sendiri. Lorraine sangat bahagia menerima kalung itu dan memakainya dengan senag hati. Sambil memikirkan kasus keluarga Perron yang ia hadapi, ia memilin-milin leontinnya, seolah aka nada kejadian tentang liontin itu nanti. Tiba-tiba, Ed mengejutkannya dengan mengatakan bahwa ada yang aneh dengan rekaman yang ia buat tadi di rumah keluarga Perron. Ed memperdengarkan rekaman itu pada Lorraine. Memang aneh. Rekaman itu hanya berisi suaranya sendiri, seolah suara Catheryne Perron terhapus. Ed sudah memeriksanya berulang-ulang, tetap kosong.
    Lorraine juga mengemukakan teori yang ia temukan tentang rumah itu. Kasus-kasus yang berhubungan dengan rumah itu, serta beberapa fakta lainnya. Tiba-tiba, setelah berhenti cukup lama, alat perekam itu menyala dengan sendirinya. Suara Ed yang terdengar masih sama seperti tadi. Tapi, bukan sunyi yang berlanjut seperti sebelumnya, melainkan suara raungan aneh seperti monster yang marah. Mereka pun memutuskan untuk segera mengadakan penyelidikan pada rumah itu, sambil menunggu persetujuan riual pengusiran setan dari gereja.



    Tim investigasi per-hantu-an pun tiba di kediaman Perron. Ada Drew, teman kampus Andrea, juga ada sheriff Brad. Mereka mulai memasang beberapa kamera di kamar dan di ruangan lain, kamera yang dilengkapi sensor perubahan suhu. Kamera juga dipasang di halaman belakang. Saat melewati gudang, Ed melihat sebuah mobil Chevrolet yang seolah terbengkalai. Ternyata rusak, dan Ayah belum sempat untuk memperbaikinya, sebenarnya, tidak bisa. Ayah bingung mengapa harus memasang kamera di halaman belakang. Dan jawaban Ed membuatnya tersentak hingga otomatis mendongak ke dahan persis di atasnya.
    Sementara itu, Lorraine berbicara tentang hal-hal spiritual dengan ibu. Ia menebak bahwa foto yang ibu pegang sekarang adalah foto kenangan paling berharga dari keluarga mereka. Ibu mengiyakan. Sepertinya, Lorraine tahu akan terjadi sesuatu pada anak-anak di rumah itu, juga pada ibu. Drew sedang melakukan pendekatan pada Andrea dengan kisah alat sinar UVnya. Di luar, terdengar suara-suara seperti gedoran. Otomatis mereka semua mendekati sumber suara. Dari toilet di seberang dapur. Ternyata, saat pintu di buka, keluar petugas Brad. Oh, ada sisi humor yang terselip akhirnya.
    Drew dan Ed mempersiapkan amplifier untuk ruangan kamar Andrea. Mereka memastikan bahwa suaranya sudah cukup jernih terdengar. Setelah semua beres, drew tetap di ruang kendali, Ed turun untuk memasang beberapa salib mungil dan menyipratkan air suci ke sekeliling rumah itu. Ia mengatakan, symbol keagamaan akan lebih cepat memancing reaksi para hantu. Terbukti, beberapa saat kemudian, ruang bawah tanah pintunya terbuka sendiri. Kamera di depannya otomatis memotret. Ed mengajak kru nya untuk turun ke ruang bawah tanah itu.
 


    Mereka mulai merekam banyak hal di dalam sana, tapi tak ada hantu yang menampakkan diri, atau bahkan menyapa. Lorraine tertunduk di sebuah pojokan di bawah tangga. Ia merasakan ada sesuatu pernah terjadi di titik itu. Karena tidak ada apapun, mereka pun keluar. Saat di tangga, Ed merasa ada yang mengikuti. Ia pun spontan menengok, diikuti oleh sorot kamera. Tak ada apapun. Saat hendak menutup pintu, tiba-tiba pintu itu terbanting sendiri dari dalam, seolah meminta mereka menjauhi tempat itu.
    Drew mengejek Brad yang tadinya tidak percaya takhayul tapi ketakutan saat pintu itu terbanting tadi. Brad tetap menyangkalnya. Ia membela diri dengan mengatakan lebih mempercayai jam di depannya yang sudah lewat semenit dari jam keramat pukul 03.07, tanpa kejadian mengerikan apapun. Sepertinya tidak ada yang tidur malam itu.


    Paginya, mereka sarapan bersama. Ibu membuatkan pancake untuk mereka semua. Suasana rumah itu jadi lebih hangat, tak lagi menyeramkan. Ibu merasa mengantuk sekali dan berpamitan untuk tidur. Ed mendukung hal itu. Ibu pun naik ke atas untuk tidur, mungkin karena di ruang tengah terlalu banyak orang. Tapi, sepertinya, ibu tidur di kamar Andrea. Pilihan buruk sepertinya. Lorraine sedang menjemur beberapa kain di halaman belakang, ketika tiba-tiba angin bertiup kencang dan dingin. Ayunan di beranda bergerak-gerak. Awan hitam bergulung-gulung di langit, seolah menyentuh ujung pepohonan dan menggoyangkannya. Lorraine mendapatkan firasat yang tidak enak. Ia hendak mengangkat jemuran karana sepertinya akan turun hujan. Saat hendak mengambil kain putih, kain itu malah terbang ke jendela laintai atas, dan menyibakan pemandangan mengerikan di jendela palong ujung, tempat ibu tidur. Di jendela itu, berdiri sesosok berambut panjang, berpakaian serba putih, yang langsung menghilang. Lorraine langsung berlari untuk memeriksa.



    Di kamar itu, ternyata kejadiannya lebih mengerikan lagi. Ibu yang sedang tidur, tiba-tiba tangannya memar membekas jari-jemari seolah ada yang mengcengkeramnya dengan sangat kuat. Tapi ibu sepertinya tak merasakan apa-apa. Dari samping ibu, muncul makhluk mengerikan yang tadi di jendela. Ibu terbangun dan terkejut setengah mati. Makhluk itu memuntahkan cairan seperti darah ke mulut ibu (euhhh… disgusting). Ibu pun tersedak, bangun dan muntah-muntah. Ia masih muntah di kamar mandi saat Lorraine tiba di kamar itu. Tapi, ia berkata tidak ada apa-apa saat Lorraine bertanya apakah ia baik-baik saja. Lorraine merasakan ada yang aneh. Pasti ada yang salah, pikirnya. Karena, ibu menghindar saat ia menanyakan apakah ia melihat sesuatu di kamar itu.
    Anak-anak baru pulang dijemput ayah dan Drew. Ayah terkejut melihat Ed sedang memperbaiki Chevi nya. Ayah berterima kasih pada Ed karena bersedia membantu keluarganya. Ed pun bercerita bahwa harusnya ia tak melakukan ini. Ia khawatir aka nada kejadian buruk lagi seperti saat ia menangani lelaki latin yang keluar salib dari perutnya. Istrinya sepertinya mengalami hal buruk saat itu, karena setelahnya ia mengurung diri di kamar, tak mau makan, tak mau keluar. Tapi, kali ini istrinya yang memaksa untuk membantu keluarga Perron, jadi ia akan melakukan dengan sebaik-baiknya.
    Malam harinya, mereka semua berkumpul.  Brad dan Drew mengawasi alat perekam suara. Brad menawari mengambilkan air minum untuk Drew, karena kebetulan ia juga akan mengambil di dapur. Di sana, Brad seperti melihat seseorang berkeliaran di beranda. Ia pun memeriksanya, dan ternyata hanya angin. Tapi kemudian, di ujung lorong, setelah agak ketakutan dari luar, ia melihat sewujud perempuan berkostum pelayan zaman dulu. Pelayan itu menunjukkan lengannya yang tersayat-sayat. Ia pun mengejarnya karena penasaran. Ia memanggil Ed untuk meminta bantuan karena wanita itu menghilang, kemudian ada kekuatan tak terlihat yang menariknya.


    Saat sedang mencari-cari hantu wanita itu, kamera di beberapa tempat menjepretkan lampu flashnya. Ada makhluk astral bergerak. Mereka pun menyusul sesuai gerak kamera. Ternyata Cindy, yang naik ke lantai atas dalam kondisi tidur berjalan, memasuki kamar Andrea, dan pintu terkunci setelahnya. Brad dan ayah berusaha mendobrak pintu, sementara Ed dan Drew mendengarkan suara dari dalam kamar itu untuk mengetahui apa yang terjadi. Saat pintu terbuka, tak ada siapa-siapa. Drew memastikan ke mana Cindy menghilang dari suara yang ia dengar. Ke dalam lemari. Tapi di lemari tidak ada. Ed meminta Drew untuk mengambil lambu sinar UV. Terlihat jejak Cindy saat lampu dipadamkan dan sinar UV dinyalakan. Jejak yang terlihat lewat sinar UV itu menunjukkan Cindy memasuki lemari. Ada jejak yang menunjukkan Cindy memasuki bagian belakang lemari, entah bagaimana caranya karena tak ada lubang atau pintu apapun di bagian belakangnya.
    Mereka menyalakan lampu dan menemukan sebuah pintu geser. Ed menggesernya dan mendapati sebuah lubang kecil di pojok lemari. Ia mengintip ke dalamnya dan menemukan Cindy tidur di pojokan ruang panel. Sistem rumah kayu di sana agak rumit ya sepertinya karena selalu ada sisa ruang sekitar berapa senti antar panel. Pantesan dulu ada berita ditemukannya ular piton di sela-sela panel dinding itu. Ed mengeluarkan Cindy dan ayah membopongnya kembali ke kamar. April yang melihat hal itu, mengatakan pada Lorraine kalau di lubang itulah biasanya Rory bersembunyi.
    Lorraine pun memutuskan untuk memeriksa tempat itu. Banyak sarang laba-laba dan mainan anak-anak di lorong sempit itu. Ed memberikan kotak music milik Rory pada Lorraine. Ia meletakkan kotak music itu di rak dan melihat ada sebuah tali besar di bawah rak. Ia mengulur tali itu dan tiba-tiba terperosok ke dalam ruang bawah tanah. Ed mencari dan menggedor-gedor papan di seluruh penjuru rumah. Lorraine jatuh tertelungkup di ruang bawah tanah yang gelap dan dingin. Matanya mengerjap menyesuaikan diri. Ia ketakutan saat menyadari di mana dirinya berada. Ia mengambil lampu senter, mengamati sekelilingnya dan semakin ketakutan. Di depannya, kotak music yang tadi ia bawa terbuka tutupnya. Ia pun memainkan kotak music itu, sekalian memanggil Rory sepertinya.


    Terdengar suara tangisan seorang wanita di belakangnya, dan muncul sosok hantu wanita tua dari bayangan di cermin kotak music. Hantu itu gendut dan berpakaian kuno. Saat Lorraine menengok untuk melihat lebih jelas, hantu itu menghilang, untuk kemudian muncul mengejutkan persis di depan wajahnya. Sama seper ti hantu pelayan yang mengganggu Brad, hantu wanita gendut itu juga mengatakan hal yang sama: “Dia yang membuatku melakukan ini”. Hantu gendut itu malah menunjukkan wajah ketakutan. Ada suara gemeretak seperti gantungan di belakang Lorraine. Spontan ia menoleh. Ia menunduk memeriksa berbagai sudut. Dengan cara yang lebih mengejutkan, muncul sepasang kaki tergantung berayun-ayun di depannya. Lorraine mengamati kaki yang tiba-tiba berhenti berayun dan berbalik posisi menghadapnya.

     Wajah hantu itu menampakkan diri. Ternyata sama dengan hantu yang muncul di atas lemari Andrea. Hantu Batsyeba. Hantu itu mengejarnya. Lorraine berusaha lari dan mencari-cari pintu keluar dari ruang bawah tanah. Ed mendengar jeritan Lorraine dan akhirnya tahu keberadaannya. Ia ke pintu ruang bawah tanah dan membukanya. Lorraine menuju ke tangga menuju pintu. Ada kekuatan yang menarik kalungnya. Kalung itu tersangkut di selasar tangga saat ia keluar. Lorraine tidak sadar kalungnya tertinggal. Ia begitu ketakutan. Kalung itu di shoot khusus seolah menandakan sesuatu. Tuh kan… pasti ada hubungannya kalung itu dijadikan cerita di awal.