Rabu, 10 Juli 2013

Life of Pi part 5




Pi terhuyung-huyung di dek kapal. Badai semakin dahsyat. Pi mencari dan memanggil-manggil keluarganya. Ia melihat kerumunan kru kapal di dekat sekoci. Tidak ada keluarganya di sana. Suara hewan riuh terdengar. Beberapa jenis burung dari kebun binatang berterbangan dan tertabrak kesana kemari. Ia heran siapa yang melepaskan hewan-hewan itu. Pi berteriak pada kru kapal untuk menyelamatkan keluarganya yang masih terjebak di kabin. Kru kapal malah menyuruhnya naik sekoci duluan. Mereka akan mencari keluarganya. Di sekoci sudah ada si juru masak yang sedang berusaha melepaskan tali yang mengikat sekoci ke kapal. Awak kapal yang satunya lagi naik kembali ke kapal untuk menyelamatkan yang lain. Juru masak semakin cepat melepaskan tali. Teman-temannya meneriakinya karena ada indikasi ia ingin selamat sendirian. Emang sekocinya cuma satu ya? Tiba-tiba mereka di kejutkan oleh suara zebra yang ketakutan di dek atas. Kapal Tsimtsum semakin tenggelam. Sekoci sudah meluncur menyentuh air. Hanya ada Pi dan juru masak di dalamnya. 



Zebra yang ketakutan itu meluncur ke sekoci, mengagetkan semuanya. Ada bunyi ‘krakk’ saat zebra itu mendarat di sekoci. Kakinya patah. Zebra it terus meringkik panik, ketakutan dan kesakitan. Juru masak terlempar ke laut saat zebra itu mendarat. Tinggal Pi dengan seekor zebra di sekoci yang terdorong jauh ke lautan oleh deburan air yang sedang menenggelamkan kapal.
Pi ketakutan saat sadar ia terpisah sendirian. Ia meniup peluit yang digunakan untuk berkomunikasi di lautan, supaya orang-orang yang selamat bisa berenang menuju ke arahnya. 




Pi senang sekali saat melihat ada gerumbul-gerumbul seperti seseorang yang sedang berenang ke arahnya. Ia pun melemparkan pelampung untuk menolongnya. Hujan dan gelap mengaburkan pandangannya. Saat perenang itu semakin dekat, sadarlah Pi bahwa yang sedang mendekatinya adalah Richard Parker, si harimau. Ia pun berusaha menghalau dengan dayung. Tapi takdir berkata lain. Meski sudah berusaha di halau, ombak membawa harimau itu naik ke sekoci. 




Pi yang ketakutan langsung mencebur ke laut. Di bawah air, ia menyaksikan kapal yang meluncur ke dasar laut. Gelembung besar, lampu yang perlahan mati, mencekam siapapun yang menyaksikannya, karena itu berarti kematian sudah menunggu.
Pi kehabisan nafas. Ia berenang kembali ke atas dan naik ke sekoci. Susah sekali mengambil adegan tragedi ini karena di shoot cepat dan gelap. Ia sempat melihat beberapa hewan berenang diserang ikan-ikan besar. Ia pun mempercepat renangnya.  Ia ingat ada harimau di sekoci, jadi ia memutuskan untuk berada di tempat yang aman, bergantungan di ujung sekoci dengan bantuan sebilah dayung.


Ia menyaksikan laut yang berkelip-kelip karena lampu kapal, perlahan menggelap dan semakin gelap. Pi menangis sambil memanggil-manggil ibu, ayah dan Ravi berulang-ulang. Ia berkali-kali minta maaf karena selamat sendirian. Ia menyesali karena seperti perpisahannya dengan Anandi, kali ini pun ia tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada keluarganya, tidak sempat mengatakan bahwa ia sangat mencintai mereka.


Hujan badai tidak lagi menampar-nampar. Hari beranjak pagi. Suasana lautan sudah agak terang, tapi ombak masih tinggi. Perahu Pi terlihat hanya sebagai titik yang terombang-ambing. Manusia memang tidak punya kuasa untuk menghadapi amukan alam. Hanya Tuhanlah yang berhak menentukan siapa yang akan Ia selamatkan. Awan badai yang gelap masih menyelimuti lautan. Serem lihatnya. Lebih serem lagi membayangkan kalau kita mengalaminya. Seolah mimpi buruk yang tiada akhir. Tanpa harimau saja sudah horror. 



Pi meringkuk kedinginan di ujung perahu, ia duduk di pelampung yang ia gantung di dayung. Hiu berseliweran di bawahnya. Ia beringsut mendekati perahu, mengintip dari ujung terpal yang terpasang di satu sisi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan harimau di dalamnya. Ia pikir, mungkin harimau itu terlempar kembali ke laut saat badai.



Ia pun mulai menciduki air yang menggenangi perahu supaya lebih nyaman ditinggali. Ia merasa kepayahan karena gelombang dan hujan membuatnya tidak enak badan. Ia merasa seperti mendengar suara ringkikan hewan dari dalam terpal. Tiba-tiba, nongol seekor hyena dari dalam terpal (beberapa adegan pakai hyena asli, beberapa lagi hasil efek. Hewan lainnya semuanya efek)


Sontak Pi berjingkat dan melompat ke ujung perahu lagi. Hyena itu berusaha menyerangnya. Untung obat anti mabuk lautnya masih bekerja, jadi hyena itu masih agak teler, dan licinnya terpal membantu Pi menyelamatkan diri.



Di kejauhan, Pi melihat Orange Juice si orang utan mengapung di atas tumpukkan pisang. Ia pun melemparkan pelampung dan menaikkan orang utan itu ke perahu. Pi mengucapkan selamat bergabung di perahu itu. Ia ingat kalau orang utan itu punya anak. Ia pun menanyakan di mana anaknya. Seolah mengerti, orang utan itu menunjukkan wajah merana. Pi menghiburnya untuk tidak khawatir, karena ayah dan ibunya pasti akan menemukan anak orang utan itu dan merawatnya. 



Malam pun merangkak menyelimuti lautan. Hyena itu mulai kelaparan. Ia berusaha menyerang Pi tapi tetap terhalang oleh terpal, dan gerakannya dibatasi oleh gelombang yang menggoyang kapal. Akhirnya, pembantaian itupun tak terelakkan. Hyena itu menyerang zebra, membunuhnya dan memakannya. Dalam keadaan panik, hewan-hewan bisa lebih buas.



Pi pun kembali ke tempat amannya di ujung perahu. Ia sudah sangat mengantuk tapi takut tertidur karena ia bisa terbunuh kapan saja. Ia terbangun dengan cara yang mengejutkan dan ekstrim. Separuh badannya tercebur ke laut. Otomatis ia bangun dan terbatuk-batuk karena kemasukan air. Ia ingat kalau di perahu itu pasti di sediakan perbekalan untuk penyelamatan. Ia pun membuka ujung terpal dan menemukan lemari penyimpanan.





Ia mengambil beberapa pelampung, melemparkannya pada orang utan yang melemparnya kembali karena tidak tahu gunanya, lalu ia mengikat pelampung banyak-banyak, menjadikannya perahu kecil dengan penyeimbang beberapa dayung. Ia bersiap melemparkan rakit buatannya saat hyena itu muncul kembali dari balik terpal. Tidak puas dengan membunuh zebra, hyena itu menyerang orang utan. Awalnya sih menyerang Pi, tapi orang utan itu melindunginya dengan menampar hyena, akhirnya orang utan itu yang diserang. Hyena tidak serta merta memakan orang utan itu. Pi berteriak-teriak kesal pada hyena itu. Hyena juga makan bangkai, jadi ia hendak memakan zebra dulu. Pi kesal sekali. Ia menghentak-hentak terpal, berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan pisau yang ia temukan di perbekalan. Ia ingin membunuh hyena itu. Tapi ia sudah keduluan. Harimau yang ditolongnya ternyata tidak pergi. Selama ini ia sembunyi di balik terpal. Ia mabuk laut. Biasanya ia kuat tahan lapar. Tapi karena sudah berhari-hari di kapal dan sekarang di perahu, ia lapar dan keluar dan langsung menyerang hyena. Pi terhenyak. Ia kaget setengah mati dan tak mengira bahwa bahaya belum selesai mengintainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar