Sabtu, 06 Juli 2013

LIFE OF PI

Cast:
Suraj Sharma as Pi remaja
Irfan Khan as Pi dewasa
Ayush Tandon as Pi kecil 
Gautam Belur as Pi balita
Ayaan Khan as kakak Pi (Ravi), umur 7 tahunan
Mohd. Abbas Khaleeli as Ravi umur belasan
Vibis Shivakumar as Ravi remaja
Addil Husain as ayah Pi
Tabassum Mukherjee (Tabu) as ibu Pi
Elie Alouf as paman Pi
Rafe Spall as penulis yang diceritani dongeng ini
Srhavanthi Sainath as Anandi
Andrea di Stefano as pendeta yang di gereja
Gerard Depardieu as koki kapal
dan masih banyak lagi yang terlalu banyak jika disebut di sini.

Life of Pi. Cukup satu kata untuk melukiskan film ini. INDAH. Dari awal sampai akhir, hanya keindahan yang terpampang. Film yang disutradarai oleh Ang Lee ini setiap adegannya diambil begitu cantik berkat besutan si penata kamera, Claudio Miranda. Saat membaca novel berjudul sama yang mendasari film ini, karya Yann Martel, saya begitu terpesona. Banyak adegan tidak  mungkin yang memenuhi benak saya. Tapi, setelah menonton film ini, saya lebih terpesona lagi, karena adegan tidak mungkin di benak saya terlihat begitu nyata, begitu mempesona. Biasanya, setiap kali menonton film yang didasari sebuah buku, saya selalu membanding-bandingkan. Tidak kali ini. Saya tidak peduli apakah ada penambahan atau pengurangan cerita. Saya nontonnya versi Blurray sih, tapi enak sekali di mata. Kalau di bioskop pasti lebih dahsyat lagi.
Film ini awalnya sudah ditawarkan pada M. Night Shyamalan (The Sixth Sense,  The Village), Alfonso Cuaron (Harry Potter and The Prisoner of Azkaban ) dan Pierre Jeunet (Micmacs) untuk menyutradarainya. Tapi, karena berbagai alasan, mereka menolaknya. Kalau digarap MNS mungkin film ini akan berkesan lebih pekat, lebih gelap, seperti film-filmnya yang lain. Untung Ang Lee yang setuju, jadi filmnya ringan tapi menyentuh. Dia juga terkenal telaten menghadapi pemain. Suraj Sharma, si pemeran Pi Patel di film ini, baru pertama kali berakting, bahkan aslinya tidak mahir berenang. Tapi aktingnya tetap wow kan? Padahal aktingnya di perahu sendirian lho, lha wong yang lainnya efek semua.
Richard Parker, si harimau Benggala, hasil teknologi. Ikan-ikan di laut, computer semua. Para Binatang Film sekarang sudah digantikan oleh bayangan pokoknya. Jangan-jangan, kebun binatang di masa depan digital semua. Yang jelas, film ini menghabiskan waktu lebih dari setahun hanya untuk special efeknya saja supaya kelihatan mirip semirip-miripnya dengan aslinya. 
Film ini bertempat di berbagai Negara. Pondichery dan kebun teh, India. Kebun binatang dan kolam untuk laut, Taiwan. Kolamnya saja khusus di buat untuk menghasilkan efek air yang nyata. Dibuat di sebuah runway bandara dengan dimensi panjang 70 m, lebar 30 m dan dalam 3 m.  Suraj Sharma harus berakting sendirian di tengah kolam hanya dengan sekoci. Aba-abanya saja pakai terompet supporter sepakbola. Kalau cut, dia harus menata propertinya sendiri. Tapi kerja keras itu terbayar sudah. Filmnya patut dibanggakan. Lalu, Kanada, tempat Pi dewasa jalan-jalan sama penulisnya.
Yang terpenting, nikmati saja segala sesuatunya. Karena itulah pesan moral dalam film ini. Keikhlasan adalah dasar menjalani hidup, katanya. Well, selamat menikmati synopsis dari saya. Maafka jika sering banyak gambar, karena adegannya tak ingin terlewatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar