Jumat, 19 Juli 2013

Life of Pi part 6

 
 
  
 Setelah insiden kencing-mengencingi, Pi pun kembali ke rakitnya sambil terus berfikir. Ia sadar tidak bisa menaklukan Richard Parker dengan cara itu. Ia ingat bahwa di kebun binatang, harimau di beri makan sepuluh kilogram daging sehari. Ia vegetarian, jadi bisa makan persediaan yang bentuknya biscuit. Tapi harimau itu karnivora, dan perenang yang hebat. Jika ia sangat kelaparan, maka tak ada gunanya lagi ia memisahkan diri di rakit karena harimau itu bisa berenang dan mencaploknya. Ia pun memulai dengan memberinya minum. Kemudian mencoba memancing ikan dengan lur dari biscuit yang ia rekatkan dengan ludah. Lama sekali tak ada ikan yang mendekati kailnya. Ia sendiri tidak terlalu tahu caranya memancing yang benar. Berulang kali Richard Parker melongok Pi dan menyeringai. Pi meneriakinya untuk sabar. Ikan-ikan tetap tidak mau mendekat.

 
Richard Parker melihat ke air dan kegirangan menyaksikan sekelompok ikan kueh yang besar-besar sedang berenang-renang di sekitar perahunya. Saking tak sabarnya, ia mencebur ke laut untuk menangkap ikan-ikan itu. Pi tersenyum melihat tingkah harimau itu. Senyumnya manis sekali. Senyum pertama sejak ia selamat.
 
 
Tapi senyumnya langsung sirna begitu ia melihat Richard Parker mengubah haluan renangnya ke arahnya. Cepat-cepat Pi mendekatkan rakitnya ke perahu. Ia melompat ke perahu dan menarik rakitnya ke atas. Richard Parker masih berenang mendekati perahu. Ia tidak bisa naik. Saat itu laut sedang tenang, jadi tidak ada ombak yang melemparkannya ke perahu. Ia hanya bergelantungan di tali pinggir perahu. Kepalanya menyembul untuk tetap bernafas.
Hari sudah semakin sore. Harimau itu tetap di air sementara Pi di perahu. Awalnya, Pi ingin memotong tali yang digelayuti Richard Parker, tapi Pi merasa kasihan melihat mimik wajah harimau itu yang seolah butuh pertolongan. 
 
Pi mondar-mandir memikirkan cara untuk menyelamatkan harimau itu tanpa mencelakai dirinya. Pi masih tetap mondar-mandir dan Richard Parker masih tetap di air sampai hari gelap. Akhirnya, Pi menemukan cara. Ia mengambil semua papan yang melapisi dasar perahu, membentuknya menjadi rakit yang lebih besar lagi dan mengisinya dengan seluruh perbekalan yang tersisa. Ia juga membuatkan tangga dari papan itu untuk Richard Parker. Segera setelah menaruh tangga, Pi melempar rakitnya ke laut dan berenang menyusulnya.

Paginya, Pi memancing ikan dengan jaring. Ada seekor ikan besar berwarna kehijauan yang tidak kutahu namanya tersangkut ke jarring itu. Pi segera mengangkatnya dan memukulinya dengan kapak, di bagian yang tumpul tapi. Pi bersujud berterima kasih pada tuhan karena telah membantu dalam wujud ikan. Ia melemparkan ikan itu ke perahu dan membi tanda pada Richard Parker agar keluar dari terpal. Rekonsiliasi dimulai.

 
Siang berganti malam. Laut masih tenang tanpa ombak yang bergejolak. Bulan bersinar terang, bulat penuh putih pucat di langit yang bertaburan bintang. Pi menyadari ada yang aneh pada tampilan laut malam ini. Permukaan laut dihiasi cahaya kelip-kelip berwarna biru. Awalnya, ia pikir itu adalah refleksi bintang gemintang di air laut, sejurus kemudian ia menyadari  bahwa cahaya itu berasal dari ribuan ubur-ubur kecil dan plankton yang mengeluarkan cahaya. Indah sekali.


Ia mencelupkan tangannya ke air, bermain dengan cahaya. Dan ia merasa sangat kegirangan. Ia mendekatkan wajahnya ke air karena melihat sesuatu yang besar sedang bergerak dari dasar air. Tiba-tiba, muncul seekor paus yang sangat besar melompat ke udara, dan jatuh berdebam kembali ke laut dengan riak air sebesar gelombang yang mampu membalik rakit Pi dan menjatuhkan seluruh persediannya ke laut. Sebuah pemandangan yang menakjubkan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar